TSO5GUG6BSClTSd9TfY9BUdiGd==
Breaking
AdExtraID

Jenderal Oerip Sumoharjo: Bapak Staf Umum TNI dan Teladan Kepemimpinan Bangsa

Ukuran huruf
Print 0


Oerip Soemohardjo, atau yang lebih dikenal sebagai Jenderal Oerip Sumoharjo, lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia dan menjadi tokoh kunci di balik berdirinya Tentara Nasional Indonesia.

Riwayat Hidup dan Pendidikan

Oerip lahir dengan nama Moehammad Sidik dalam keluarga yang berpendidikan; ayahnya adalah kepala sekolah dan kakeknya seorang tokoh lokal. Sejak kecil ia menunjukkan jiwa kepemimpinan dan kecerdasan. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia dikirim orangtuanya ke Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi (OSVIA) di Magelang, namun berhenti di tengah jalan karena ibunya wafat. Ia kemudian memasuki pelatihan militer di Meester Cornelis, Batavia (kini Jakarta). Ia lulus pada tahun 1914 dan menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) — tentara kolonial Belanda — serta kemudian menjadi salah satu perwira pribumi berpangkat tinggi dalam KNIL.

Perjuangan untuk Kemerdekaan dan Profesionalisme Militer

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Oerip memainkan peran sentral dalam upaya menyatukan berbagai pasukan perjuangan rakyat terhadap agresi Belanda. Ia ditunjuk sebagai Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 14 Oktober 1945, organisasi yang menjadi cikal bakal TNI. Di sinilah ia memanfaatkan pengalaman militernya untuk menanamkan disiplin dan struktur profesional pada angkatan bersenjata republik yang baru lahir. Pada 31 Oktober 1945, ia mendirikan Akademi Militer pertama.

Meski kemudian Jenderal Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar TKR pada 12 November 1945, Oerip tetap menjadi tokoh utama yang membangun fondasi administratif dan strategis TKR/TNI. Sikapnya yang legowo menerima hasil pemilihan ini justru menjadi contoh keteladanan kepemimpinan yang menghormati proses bersama demi stabilitas bangsa.

Selama periode Revolusi Nasional Indonesia, Oerip terus berjuang menata struktur militer hingga mengundurkan diri pada awal 1948 sebagai tanda protes terhadap kurangnya dukungan pemerintah terhadap militer dalam situasi perang dan politik internal. Ia kemudian wafat pada 17 November 1948 di Yogyakarta karena serangan jantung.

Perjalanan Iman dan Aspek Katolik

Perjalanan spiritual Oerip menarik karena ia dilahirkan dalam keluarga Muslim (nama lahirnya Moehammad Sidik) namun menjalani perjalanan iman yang berubah saat dewasa, terutama setelah berkawan dengan figur Katolik selama bertugas. Menurut riset sejarah, Oerip tidak pernah menunaikan haji seperti yang diharapkan kakeknya, namun kemudian menjadi pemeluk agama Kristen (Katolik). Hal ini tercatat dalam literatur yang menyebutnya sebagai penganut Katolik setelah berkawan dengan tokoh Katolik tertentu dalam masa dinasnya dan setelah menikah.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Oerip dikenang melalui chalice (piala ibadah) dari Paus Paulus VI pada Natal 1964, yang dipersembahkan untuk menghormatinya, serta disimpan di kapel Akademi Militer Magelang sebagai tanda hubungan emosional antara dirinya dan komunitas Katolik.

Penghargaan dan Warisan Sejarah

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, Oerip dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314/TK/1964 pada 10 Desember 1964 secara anumerta. Ia juga menerima berbagai tanda kehormatan seperti Bintang Mahaputera, Bintang Republik Indonesia Adipurna, dan lainnya. Beberapa kota di Indonesia mengabadikan namanya pada nama jalan dan monumen sebagai penghormatan.

Warisan Oerip yang paling penting adalah profesionalisme militer Indonesia, semangat persatuan, dan teladan kepemimpinan yang mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi — nilai-nilai yang menjadi bagian penting sejarah perjuangan bangsa.*

Disarikan dari berbagai sumber

Jenderal Oerip Sumoharjo: Bapak Staf Umum TNI dan Teladan Kepemimpinan Bangsa
Baca Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin