TSO5GUG6BSClTSd9TfY9BUdiGd==
Breaking
AdExtraID

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya: Intelektualitas, Spiritualitas, dan Praksis Kemanusiaan bagi Indonesia

Ukuran huruf
Print 0


Kehadiran sosok Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Romo Mangun, dalam panggung sejarah Indonesia modern merupakan sebuah anomali yang indah sekaligus provokatif. Sebagai seorang rohaniwan Katolik, ia melampaui sekat-sekat sakristi untuk masuk ke dalam lumpur kehidupan rakyat jelata. Sebagai seorang arsitek, ia menolak kemegahan material demi kejujuran struktur dan martabat penghuninya. Sebagai seorang sastrawan, ia menggugat narasi sejarah yang hegemonik melalui kejujuran fiksi. Seluruh dimensi kehidupannya merupakan satu kesatuan organik yang berakar pada satu prinsip fundamental: iman yang mewujud dalam belarasa kepada yang lemah.

Lahir di Ambarawa pada 6 Mei 1929, Romo Mangun tumbuh dalam periode krusial transisi kekuasaan di Nusantara. Ia bukan sekadar saksi mata, melainkan pelaku aktif yang terlibat langsung dalam revolusi fisik sebagai tentara pelajar. Pengalaman masa muda inilah yang membentuk watak "republikan" dalam dirinya—sebuah identitas yang terus ia bawa hingga akhir hayatnya pada 10 Februari 1999.

Kehidupan Romo Mangun tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarganya yang kental dengan etos pendidikan dan kesederhanaan. Ia adalah putra sulung dari dua belas bersaudara, lahir dari pasangan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan Serafin Kamdaniyah. Ayahnya berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan kemudian menjadi penilik sekolah, sementara ibunya juga berasal dari kalangan pendidik. Nama "Bilyarta" merupakan nama kecilnya yang unik, konon diberikan karena ayahnya tengah bermain biliar saat ia dilahirkan, sedangkan "Yusuf" adalah nama baptisnya. Nama dewasanya, Mangunwijaya, diambil dari nama kakeknya yang merupakan seorang petani tembakau sederhana.

Tumbuh di lingkungan kolonial Belanda di Muntilan, Mangun kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan mengamati arsitektur bangunan misi yang sarat dengan karakter khas. Pendidikan dasarnya ditempuh di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, sebuah sekolah yang didirikan misionaris bagi rakyat biasa—sebuah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa sejak dini ia telah berada di lingkungan yang memperjuangkan akses pendidikan bagi kalangan non-priyayi. Bakatnya dalam bidang akademik selalu menonjol, dengan nilai-nilai ujian yang sangat memuaskan, yang kelak menjadi modal besar dalam studi lanjutnya di Jerman.

Masa remajanya ditandai dengan keterlibatan aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Pada usia 16 tahun, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Batalyon X Divisi III sebagai prajurit. Ia terlibat dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Semarang. Pengalaman yang paling membekas adalah saat ia bertugas sebagai sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam memeriksa pasukan, serta menjabat sebagai komandan Tentara Pelajar Kompi Kedu saat Agresi Militer Belanda I. Interaksi ini memberinya perspektif langsung tentang kepemimpinan nasional yang merakyat

Kesadaran sosialnya kian terasah melalui pengalaman di medan perang. Ia sempat merasa terkejut dengan cara pasukan militer memperlakukan penduduk desa. Titik balik yang paling menentukan adalah ketika ia mendengar pidato Mayor Isman dalam reuni Tentara Pelajar di Malang sekitar tahun 1950-an. Mayor Isman menegaskan bahwa pahlawan sejati revolusi bukanlah para mahasiswa bersenjata, melainkan rakyat desa yang menderita namun tetap memberi makan dan perlindungan bagi pejuang. Kesadaran akan "utang budi" kepada rakyat inilah yang kemudian memicu panggilan hidupnya untuk melayani kaum miskin atau wong cilik.

Panggilan Imamat dan Filosofi Pelayanan 

Keputusan Mangunwijaya untuk masuk seminari bukanlah sebuah upaya menarik diri dari dunia, melainkan cara untuk berada di tempat yang paling strategis dalam melayani rakyat. Pada tahun 1951, ia masuk Seminari Menengah di Kotabaru, Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkan ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan, Magelang. Ia menempuh pendidikan filsafat dan teologi di Institut Sancti Pauli, Kotabaru, di bawah bimbingan langsung Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.

Mgr. Soegijapranata, sebagai Uskup Agung pribumi pertama, memberikan pengaruh intelektual dan nasionalis yang sangat kuat. Prinsip "100% Katolik, 100% Indonesia" yang didengungkan Soegijapranata menjadi fondasi bagi Romo Mangun dalam menghayati imannya secara kontekstual di bumi Indonesia. Pada tanggal 8 September 1959, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Soegijapranata. Romo Mangun memilih menjadi imam projo (keuskupan), karena ia merasa status tersebut memungkinkannya untuk lebih dekat dengan rakyat jelata tanpa terikat oleh aturan ordo religius yang ketat.

Bagi Romo Mangun, tugas imamat adalah mengikuti teladan Yesus yang memberikan perhatian istimewa kepada mereka yang sakit, terbuang, dan marginal. Ia membedakan antara "beragama" (having religion) yang bersifat formal dan administratif, dengan "beriman" (being religious) yang bersifat substantif dan penuh kasih. Teologi yang ia kembangkan kemudian dikenal sebagai "Teologi Pemerdekaan"—sebuah refleksi kritis atas praksis hidup yang bertujuan membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan, ketidaktahuan, dan kemiskinan.

Tahapan PendidikanInstitusiLokasiTahun
Seminari MenengahSeminari KotabaruYogyakarta1951
Seminari MenengahSeminari MertoyudanMagelang1952 - 1953
Filsafat & TeologiInstitut Sancti PauliYogyakarta1953 - 1959
Penahbisan ImamOleh Mgr. SoegijapranataYogyakarta8 September 1959


Setelah ditahbiskan, Romo Mangun tidak langsung bertugas di paroki besar, melainkan diberikan kebebasan oleh Keuskupan Agung Semarang untuk mengejar minat intelektualnya demi pelayanan yang lebih luas. Ia melanjutkan studi ke Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1959, dan setahun kemudian berangkat ke Jerman Barat untuk belajar di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule (RWTH) Aachen hingga lulus pada tahun 1966. Pilihan ini didasari oleh cita-citanya sejak kecil untuk menjadi insinyur, yang ia lihat sebagai alat teknis untuk meningkatkan taraf hidup manusia.

Arsitektur: Tektonika dan Martabat Manusia 

Kepulangan Romo Mangun dari Jerman membawa angin segar bagi dunia arsitektur Indonesia. Ia tidak hanya membawa keahlian teknis, tetapi juga filosofi bangunan yang sangat manusiawi. Ia mulai mengajar di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) dan aktif dalam berbagai proyek perancangan yang menentang arus utama arsitektur modern yang cenderung materialistik.

Filosofi Wastu Citra

Visi arsitekturalnya tertuang dalam buku legendaris Wastu Citra (1988), di mana ia menekankan bahwa arsitektur bukan sekadar tentang membangun gedung, melainkan sarana untuk memperbaiki kualitas hidup. Ia memperkenalkan konsep "tektonika"—kejujuran dalam mengekspos struktur dan material bangunan. Bagi Romo Mangun, bangunan harus memiliki "jiwa" yang mencerminkan pluralitas budaya dan kebutuhan spesifik komunitasnya.

Ia sangat menentang arsitektur yang hanya meniru gaya asing tanpa akar budaya. Sebagai gantinya, ia mengembangkan gaya arsitektur yang memanfaatkan material lokal seperti bambu, batu kali, dan kayu dengan teknik yang inovatif. Ia percaya bahwa arsitektur hari ini harus mampu menjawab krisis iklim, meningkatkan pendidikan, dan menumbuhkan rasa kemanusiaan. Salah satu inovasi teknisnya adalah pemanfaatan struktur panggung yang menurutnya mengungkapkan mentalitas manusia yang sadar akan dirinya di tengah alam.

Karya-Karya Arsitektur Monumental 

Karya arsitektur Romo Mangun tersebar di berbagai wilayah, mulai dari rumah tinggal, gereja, hingga kawasan peziarahan. Setiap karyanya selalu menunjukkan inkulturasi yang mendalam dengan budaya lokal, terutama Jawa.

Nama ProyekLokasiTahunSignifikansi
Kompleks SendangsonoKulonprogo, DIY1972-1991Penghargaan IAI Award 1991; integrasi alam dan batu kali.
Kampung Kali CodeYogyakarta1983-1987Aga Khan Award 1992; penataan sosiopolitis kaum marginal.
Bentara Budaya JakartaJakarta1986-1988Adaptasi rumah tradisional Kudus untuk ruang publik.
Pertapaan GedonoSalatiga1984-1991Penghargaan IAI Award 1993; keheningan dan harmoni alam.
Gereja Maria AssumptaKlaten1968-1969Simbol "burung mengepak sayap" dan relief pohon kehidupan.
Gereja St. Maria FatimaSragen1965-1968Atap Joglo dan tiang soko guru; konsep ruang terbuka.

Gereja St. Maria Fatima di Sragen merupakan contoh nyata bagaimana Romo Mangun menghadirkan suasana yang menyatu dengan ruang luar melalui penggunaan batu alam dan plafon kayu berpola garis mengerucut ke puncak, melambangkan kesatuan dalam peribadatan. Sementara itu, di Sendangsono, ia memanfaatkan kontur alam yang curam untuk menciptakan peziarahan yang tidak mewah namun sangat agung dalam kesederhanaannya. Ia juga merancang altar, tabernakel, dan mimbar di berbagai gereja dengan detail ukiran kayu yang sarat makna teologis.

Membela Kaum yang Tak Terperhatikan


Dimensi yang paling menonjol dari kehidupan Romo Mangun adalah keberaniannya berdiri sebagai pembela kaum marginal di tengah kekuasaan Orde Baru yang represif. Ia tidak hanya berbicara dari mimbar, tetapi benar-benar tinggal dan hidup bersama rakyat yang menderita.

Pada tahun 1981, Romo Mangun mengambil keputusan radikal dengan meninggalkan kenyamanan kehidupan gerejawi untuk tinggal di kawasan kumuh pinggiran Kali Code, Yogyakarta. Kawasan tersebut dihuni oleh para pemulung, buruh kasar, hingga mereka yang dianggap sampah masyarakat. Ketika pemerintah berencana menggusur pemukiman tersebut, Romo Mangun dengan tegas menolak dan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes.

Ia tidak hanya mengandalkan aksi protes, tetapi juga menggunakan keahlian arsitekturnya untuk menata kampung tersebut. Ia merancang rumah-rumah panggung bambu sederhana yang dicat warna-warni, serta membangun balai pertemuan dan ruang baca. Kehadirannya mengubah stigma kawasan tersebut; dari sarang kriminal menjadi kampung yang bersih, manusiawi, dan terorganisir melalui sistem "rembug kampung". Penataan ini diakui dunia melalui Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992, yang kemudian ia dedikasikan kembali untuk kepentingan warga.

Pembelaan Kasus Kedung Ombo

Perjuangan sosial besar lainnya adalah pembelaan terhadap para petani yang terdampak pembangunan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah. Ribuan keluarga kehilangan tanah dengan ganti rugi yang sangat tidak manusiawi dan mengalami intimidasi aparat militer. Romo Mangun mendampingi warga yang menolak pindah dengan mendirikan sekolah darurat dan perpustakaan terapung.

Dalam aksi ini, ia menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menjalin kolaborasi lintas iman. Ia menggandeng sahabatnya, Kiai Hamam Dja'far dari Magelang, untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan murni atas dasar kemanusiaan dan bukan agenda kristenisasi. Ia juga menyurati rekan lamanya di Jerman, B.J. Habibie (yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi), untuk menuntut keadilan bagi rakyat. Baginya, perjuangan kemanusiaan adalah jalan menuju Allah yang melampaui sekat-sekat agama formal.

Sastra: Menyuarakan Nurani Bangsa 

Sebagai seorang sastrawan, Romo Mangun menggunakan pena sebagai senjata untuk menggugat kepalsuan sejarah dan memperjuangkan martabat manusia. Ia adalah seorang realis yang percaya bahwa sastra harus memiliki misi sosial dan spiritual yang mendalam.

Burung-Burung Manyar: Narasi Alternatif Revolusi 

Novelnya yang paling legendaris, Burung-Burung Manyar (1981), merupakan tonggak penting sastra Indonesia modern. Novel ini mengisahkan tokoh Teto (pemuda KNIL yang memihak Belanda) dan Atik (putri seorang pejuang Republik) di tengah gejolak revolusi. Melalui novel ini, Romo Mangun melakukan dekonstruksi terhadap konsep kepahlawanan yang hitam-putih, menunjukkan bahwa cinta dan kemanusiaan sering kali menjadi korban di tengah ideologi yang bertikai.

Novel ini mendapatkan kritik dari kalangan nasionalis sempit karena dianggap tidak "heroik", namun Romo Mangun yang merupakan mantan tentara pelajar tidak gentar. Baginya, kemenangan militer tidak ada artinya jika tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan rakyat kecil. Burung-Burung Manyar memenangkan penghargaan dari Radio Nederland dan Ramon Magsaysay Award, membuktikan bahwa pesan kemanusiaan dalam karyanya memiliki resonansi universal.

Judul BukuJenisTahunTema Utama
Burung-Burung ManyarNovel1981Revolusi, identitas, dan kemanusiaan.
Roro Mendut (Trilogi)Novel1982-1987Perlawanan perempuan terhadap kekuasaan.
Durga UmayiNovel1994Post-kolonialisme dan sejarah Indonesia yang plural.
Ikan-Ikan Hiu, Ido, HomaNovel1983Kehidupan masyarakat pesisir dan ekologi.
Puntung-Puntung Roro MendutEsai1978Kumpulan pemikiran tentang budaya dan sosial.
Rumah BambuCerpen2000Kumpulan cerita tentang rakyat kecil (anumerta).

Karya tulis non-fiksinya juga sangat melimpah, mencakup bidang pendidikan, politik, hingga fisika bangunan. Ia menulis buku Gereja Diaspora (1999) yang merumuskan visi tentang kehadiran umat Katolik di tengah masyarakat yang majemuk bukan sebagai kelompok yang eksklusif, melainkan sebagai garam dan terang dunia.

Pendidikan: Memerdekakan Manusia Melalui EKI 

Romo Mangun sangat tidak puas dengan sistem pendidikan nasional yang dianggapnya terlalu berorientasi pada nilai ujian dan hafalan mekanistik. Baginya, pendidikan harus menjadi media untuk "memerdekakan" anak dari segala bentuk belenggu mental.

Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED)

Pada 4 Agustus 1989, ia mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED) di Yogyakarta. Yayasan ini bertujuan membantu anak-anak dari kalangan ekonomi lemah untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan manusiawi. Ia menerapkan model pendidikan eksperimental di Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan, Kalasan.

Pola pendidikan yang ia kembangkan berlandaskan pada semangat EKI:

Eksploratif: Anak didorong untuk bebas mengeksplorasi lingkungan dan pengetahuannya tanpa rasa takut.

Kreatif: Menumbuhkan keberanian anak untuk bertanya dan menciptakan karya-karya baru.

Integral: Pendidikan yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan—intelektual, sosial, dan spiritual—secara utuh.

Ia memperkenalkan konsep "Sekolah adalah Masyarakat", di mana pendidikan tidak boleh terpisah dari realitas sosial. Di sekolah Mangunan, setiap orang dipandang sebagai guru, dan proses belajar haruslah relevan, menyenangkan, serta bermakna bagi anak. Ia juga menekankan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin tanpa perlu menggunakan kekerasan atau tekanan mental.

Teologi Pemerdekaan dan Dialog Interreligius 

Sebagai seorang intelektual Katolik, Romo Mangun memberikan kontribusi besar dalam wacana teologi di Indonesia. Ia mengembangkan "Teologi Pemerdekaan" yang berakar pada keprihatinan terhadap kaum wong cilik. Ia meyakini bahwa berteologi bukan sekadar berefleksi di atas kertas, tetapi merupakan aktualisasi iman dalam tindakan nyata membela mereka yang tertindas.

Spiritualitas Belarasa 

Ia mempopulerkan istilah "belarasa" untuk menggambarkan arah pastoralnya. Belarasa bagi Romo Mangun bukan sekadar rasa kasihan, melainkan kesediaan untuk merasakan penderitaan sesama dan bergerak untuk mengubah situasi tersebut. Mgr. Ignatius Suharyo mencatat bahwa Romo Mangun berhasil menjembatani kesenjangan antara kesalehan ritual dan keterlibatan sosial.

Dalam hal dialog antaragama, Romo Mangun adalah sosok yang sangat inklusif. Ia percaya bahwa harmoni antarumat beragama hanya bisa dicapai melalui kejujuran dan ketulusan dalam bekerja sama untuk kepentingan kemanusiaan. Baginya, sekat-sekat agama formal tidak boleh menghalangi upaya untuk "memanusiakan manusia". Ia sering diundang sebagai pembicara dalam acara lintas agama, termasuk Maulid Nabi di UGM, yang menunjukkan betapa ia diterima oleh berbagai kalangan.

TahunNama PenghargaanBidangPemberi
1975Penghargaan Kincir EmasSastraRadio Nederland
1986Anugerah KemanusiaanHak Asasi ManusiaLBH
1991IAI AwardArsitekturIkatan Arsitek Indonesia
1992Aga Khan Award for ArchitectureArsitektur & SosialAga Khan Foundation
1995Ruth and Ralph Erskine FellowshipKemanusiaanSwedia
1996Ramon Magsaysay AwardSastra & KemanusiaanFilipina
2010Bintang Budaya Parama DharmaKebudayaanPresiden RI

Penghargaan internasional seperti Aga Khan Award diraihnya bukan karena membangun gedung megah, melainkan karena kemampuannya "memanusiakan" warga pinggiran Kali Code melalui penataan lingkungan yang partisipatif. Sementara itu, Bintang Budaya Parama Dharma yang dianugerahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 merupakan pengakuan negara atas jasanya sebagai budayawan dan sastrawan yang membentuk jati diri bangsa.

Menuju Gelar Pahlawan Nasional 

Saat ini, terdapat gerakan yang kuat dari berbagai kalangan untuk mengusulkan Romo Y.B. Mangunwijaya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Inisiatif ini didorong oleh Ikatan Alumni Filsafat dan Teologi (Ikafite) Universitas Sanata Dharma, Keuskupan Agung Semarang, dan Yayasan DED.

Landasan Kepahlawanan 

Beberapa alasan mendasar yang diajukan para tokoh nasional, termasuk budayawan Mohamad Sobary dan Rektor SCU Dr. Ferdinandus Hindiarto, adalah kontribusi multidisiplin Romo Mangun yang melampaui batas agama dan etnis. Ia dipandang sebagai "Guru Bangsa" yang memberikan teladan tentang integritas, keberanian membela keadilan, dan kecintaan pada rakyat kecil.

Langkah-langkah administratif untuk pengusulan gelar ini telah dimulai sejak tahun 2024, mencakup penyelenggaraan seminar nasional dan Misa Peringatan 25 Tahun Wafatnya yang dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Bagi banyak orang, Romo Mangun sudah menjadi "pahlawan di hati" mereka jauh sebelum gelar resmi diberikan. Penganugerahan ini diharapkan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat kemanusiaan Romo Mangun di tengah tantangan zaman modern.

Romo Mangun mengembuskan napas terakhirnya pada tanggal 10 Februari 1999 di Jakarta, dalam usia 69 tahun. Ia meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung sesaat setelah menyampaikan makalah dalam sebuah simposium di Hotel Le Meridien, Jakarta. Makalah terakhirnya berjudul "Peran Buku demi Kearifan dalam Iptek", sebuah refleksi yang konsisten dengan kegelisahannya akan pentingnya literasi dan kearifan bagi kemajuan bangsa.

Kematiannya ditangisi oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari presiden, menteri, hingga warga Kali Code dan Kedung Ombo yang menitikkan air mata. Jenazahnya disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta dan kemudian dimakamkan di Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta. Makamnya kini menjadi tempat ziarah bagi mereka yang ingin mengenang jejak pejuang kemanusiaan yang amat bersahaja ini.

Daftar Buku tentang Romo Mangun 

Sebagai bentuk penghormatan dan upaya mendalami pemikirannya, banyak kolega dan sahabat menuliskan memoar serta analisis atas karya-karyanya:

Penulis / EditorJudul BukuPenerbitTahun
Abdurrahman WahidRomo Mangun Di Mata Para SahabatKanisius1999
Sumartana, dkk.Mendidik Manusia MerdekaPustaka Pelajar1995
Eko A. PrawotoTektonika Arsitektur Y.B. MangunwijayaCemeti Art House1999
Iip D. YahyaRomo Mangun Sahabat Kaum DuafaKanisius2005
PurwatmaRomo Mangun Imam bagi Kaum KecilKanisius2001
B. RahmantoY.B. Mangunwijaya: Karya dan DunianyaGrasindo2001

Warisan Romo Mangun tidak hanya tertinggal dalam bentuk fisik seperti gereja yang indah atau novel yang memenangkan penghargaan. Warisan terbesarnya adalah sebuah etos kehidupan—bahwa kecerdasan intelektual dan keahlian profesional hanya akan bermakna jika diletakkan dalam pelayanan untuk memuliakan Allah melalui pembelaan martabat manusia yang paling rendah. Di tengah krisis keteladanan, sosok Romo Mangun tetap menjadi kompas moral yang mengingatkan kita untuk selalu memiliki "hati nurani yang republikan" dan belarasa yang tak kunjung padam bagi sesama.

Bagi umat Katolik Indonesia, Romo Y.B. Mangunwijaya adalah representasi terbaik dari wajah Gereja yang melayani dan hadir di tengah dunia. Ia membuktikan bahwa menjadi seorang murid Kristus yang setia berarti menjadi seorang warga negara yang penuh dedikasi bagi kemajuan nusa dan bangsanya. Jejaknya di Kali Code, Kedung Ombo, hingga Sekolah Mangunan akan terus bercerita tentang seorang imam yang memilih untuk menjadi jembatan bagi mereka yang terpinggirkan agar tetap memiliki harapan dan martabat di bumi pertiwi ini.*

~Disarikan dari berbagai sumber - AdExtraID

Azizah, U. N. (2025, 20 Juli). Biografi YB Mangunwijaya "Romo Mangun" dan Perjuangan Kemanusiaannya. detikJogja. https://www.detik.com/jogja/berita/d-8020555/biografi-yb-mangunwijaya-romo-mangun-dan-perjuangan-kemanusiaannya

Berita Bernas. (2024, 27 Agustus). Ini Alasan Mendasar Romo Mangun Layak Mendapat Gelar Pahlawan. beritabernas.com. https://beritabernas.com/ini-alasan-mendasar-romo-mangun-layak-mendapat-gelar-pahlawan-nasional/

Hidup Katolik. (2014, 16 Maret). RD Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. hidupkatolik.com. https://www.hidupkatolik.com/2014/03/16/27705/rd-yusuf-bilyarta-mangunwijaya.php

Kartika. (2022). Novel Biografi Romo Mangun: Refleksi atas Teologi Pembebasan Sang Manyar. Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal, 2(1), 34–52. https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/arif/article/download/26366/13059

Mangoting, A. (n.d.). Mengenang Romo Mangun Sang Inspirasi yang Hidup Penuh Kesederhaan. Scribd. https://id.scribd.com/document/962645108/Mengenang-Romo-Mangun-sang-inspirasi-yang-hidup-penuh-kesederhaan

Mangunwijaya, Y. B. (n.d.). Teologi Pemerdekaan. Perpus Fauzy. https://perpus.fauzy.eu.org/YB%20Mangunwijaya/yb-mangunwijaya-teologi-pemerdekaan.pdf

Mulyatno, C. (2013). Keutamaan dalam karya-karya kemanusiaan YB. Mangunwijaya. Jurnal Teologi, 2(2), 185–198. https://e-journal.usd.ac.id/index.php/jt/article/download/444/386

Napitupulu, E. P. (2002). Tinjauan Tentang Mangunwijaya. https://digilib.itb.ac.id/assets/files/disk1/567/jbptitbpp-gdl-tommyallen-28339-5-2002ts-3.pdf

Nordholt, N. S. (2007, 12 September). Romo Mangun: Activist. Inside Indonesia. https://www.insideindonesia.org/editions/edition-5948/romo-mangun-activist

Rahardjo, S. (2023, 10 April). 3 Karya Arsitektur YB Mangunwijaya. Scribd. https://id.scribd.com/document/638169398/3-Karya-Arsitektur-YB-Mangunwijaya

Realrich Architecture Workshop. (2025, 25 Mei). Romo Mangun: Jejak-Jejak Arsitektur yang Memanusiakan. real-rich.org. https://real-rich.org/2025/05/25/romo-mangun-jejakjejak-arsitektur-yang-memanusiakan/

Sabda. (n.d.). Selayang Pandang Y. B. Mangunwijaya. Biokristi. https://biokristi.sabda.org/selayang_pandang_y_b_mangunwijaya

Setyaningrum, P. (2022, 15 November). Biografi Y.B. Mangunwijaya, Romo Kaum Marginal dan Arsitek Peraih Aga Khan Award. Kompas.com. https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/11/15/220051478/biografi-yb-mangunwijaya-romo-kaum-marginal-anda-arsitek-peraih-aga-khan

Tari, E. (2020). Mangunwijaya bukan hanya merancang arsitektur gereja dan mendirikan yayasan bahkan rumah bagi orang miskin. Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 2(1). https://www.jurnal.sttstarslub.ac.id/index.php/js/article/download/75/26

Unika Soegijapranata. (2024, 26 November). SCU Gelar Seminar Kawal Rm. Mangunwijaya Jadi Pahlawan Nasional. https://www.unika.ac.id/news/peringati-25-tahun-wafat-scu-gelar-seminar-kawal-rm-mangunwijaya-jadi-pahlawan-nasional/

Utusan. (2025, 11 Maret). YBM-PN Usulkan Rm. Mangun Bergelar Pahlawan Nasional. https://utusan.net/ybm-pn-usulkan-rm-mangun-bergelar-pahlawan-nasional/

Wikipedia. (2024, 20 Juni). Y.B. Mangunwijaya. https://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya

Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. (n.d.). Semangat Utama: EKI (Eksploratif, Kreatif, dan Integral). https://eksperimental.org/

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya: Intelektualitas, Spiritualitas, dan Praksis Kemanusiaan bagi Indonesia
Baca Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin