TSO5GUG6BSClTSd9TfY9BUdiGd==
Breaking
AdExtraID

Basuki Abdullah: Maestro Pelukis Indonesia yang Berpadu Iman dan Seni

Ukuran huruf
Print 0

 


Riwayat Hidup dan Latar Belakang Keluarga

Fransiskus Xaverius Basuki Abdullah lahir sebagai Muhammad Basuki Abdullah di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915. Ia berasal dari keluarga seniman: ayahnya Abdullah Suriosubroto adalah pelukis dan penari, sedangkan kakeknya, Wahidin Sudirohusodo, dikenal sebagai tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia awal abad ke-20. Sejak usia sangat muda, Basuki menunjukkan kecakapan luar biasa dalam menggambar dan melukis, termasuk karya-karya figur tokoh besar dunia seperti Mahatma Gandhi atau Rabindranath Tagore ketika ia masih anak-anak.

Pendidikan dan Awal Karier Seni

Basuki Abdullah menempuh pendidikan formal di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Katolik dan MULO Katolik di Solo, di mana minatnya pada seni terus tumbuh. Berkat dukungan Pastur Koch SJ, ia memperoleh beasiswa untuk belajar di Academie Voor Beeldende Kunsten (Royal Academy of Art) di Den Haag, Belanda, pada tahun 1933, dan menyelesaikan studinya dalam tiga tahun dengan meraih Sertifikat Royal International of Art (RIA). Selain itu, ia juga mengembangkan wawasan seni rupa lewat studi dan praktik di sekolah-sekolah seni di Paris dan Roma.

Perjalanan Iman Katolik

Basuki Abdullah awalnya lahir dalam keluarga Muslim. Namun, pengalaman hidupnya membawanya memutuskan pindah agama menjadi Katolik, dan ia mengadopsi nama baptis Fransiskus Xaverius Basuki Abdullah. Perubahan agama ini terjadi sejak masa mudanya saat lingkungan pendidikan Katolik dan pengalaman rohani seni rupa membuka dimensi iman baru baginya. Banyak karya dan kehidupan akhirnya dipengaruhi oleh nilai-nilai Kristiani.

Sampai akhir hayatnya, Basuki menjadi anggota aktif di Paroki St. Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan, dan identitas Katolik menjadi bagian integral dari perjalanan hidup dan karya-karyanya dalam seni.

Kiprah dalam Dunia Seni Lukis

Basuki Abdullah dikenal luas sebagai pelukis beraliran realis dan naturalis, serta salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah seni rupa Indonesia abad ke-20. Karyanya mencakup potret manusia, pemandangan, serta komposisi figur yang detail dan penuh ekspresi. Banyak karya Basuki menjadi koleksi negara, istana, maupun museum di berbagai belahan dunia.

Puncak prestasi internasionalnya terjadi ketika ia memenangkan sayembara melukis potret Ratu Juliana dari Belanda pada tahun 1948, mengalahkan puluhan pelukis Eropa dalam kompetisi tersebut. Kemenangan ini membuka peluang bagi Basuki untuk tampil di panggung seni internasional dan memperkuat reputasinya sebagai maestro.

Setelah itu, karya-karyanya dipamerkan di banyak negara, termasuk di Asia dan Eropa. Sekembalinya ke Indonesia, Basuki banyak mendapat komisi resmi, termasuk menjadi pelukis istana (official court painter) Istana Merdeka Jakarta, di mana ia melukis sejumlah Presiden dan tokoh kenegaraan.

Karya dan Gaya Seni

Gaya lukis Basuki Abdullah sering digambarkan sebagai representasi realisme yang memadukan ketepatan pengamatan visual dengan ketelitian teknis, serta penekanan pada ekspresi dan karakter figur yang dilukis. Karyanya juga menunjukkan kepekaan terhadap nilai estetika budaya Indonesia yang berpadu dengan tradisi seni rupa Barat yang dipelajarinya saat studi di Eropa.

Banyak karya potret diri, tokoh masyarakat, wanita, serta figur religius yang dihasilkan Basuki menjadi konsumsi seni masyarakat dan dipuji sebagai perpaduan ideal antara keindahan dan substansi.

Penghargaan dan Warisan

Sepanjang kariernya, Basuki Abdullah mendapatkan pengakuan tingkat nasional dan internasional. Karyanya dipajang di Galeri Nasional Indonesia, serta banyak kolektor negara luar negeri yang menghargai karyanya. Prestasi memenangkan penghargaan Ratu Juliana dan pengangkatannya sebagai pelukis istana merupakan pengakuan atas kualitas artistiknya.

Basuki Abdullah juga meninggalkan warisan budaya melalui Museum Basoeki Abdullah di Jakarta—rumahnya sendiri yang kini menjadi museum yang menyimpan sejumlah lukisan, alat kerja, dan dokumentasi hidupnya sebagai maestro seni rupa Indonesia.

Akhir Hidup

Basuki Abdullah mengakhiri hidupnya pada 5 November 1993 di Jakarta pada usia 78 tahun. Ia meninggal setelah mengalami perampokan di rumahnya, di mana peristiwa tragis itu menyebabkan pihak keluarga dan komunitas seni kehilangan seorang maestro yang sangat berpengaruh dalam perkembangan seni rupa Indonesia.*

Disarikan dari berbagai sumber

Basuki Abdullah: Maestro Pelukis Indonesia yang Berpadu Iman dan Seni
Baca Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin