Perjalanan hidup Prof. em. Dr. Romo Franz Magnis-Suseno, SJ bukan sekadar narasi tentang seorang imam Katolik yang berpindah negara, melainkan sebuah epik tentang pencarian makna kemanusiaan melintasi batas-batas benua, kelas sosial, dan ideologi politik. Sebagai sosok yang lahir di jantung aristokrasi Eropa dan kemudian memilih untuk mengakar dalam kearifan lokal Jawa, beliau telah menjadi jembatan hidup antara tradisi pemikiran Barat yang kritis dan spiritualitas Timur yang harmonis. Analisis terhadap kontribusinya selama lebih dari enam dekade di Indonesia menunjukkan bahwa eksistensi beliau telah berevolusi menjadi sebuah kompas moral nasional, sebuah suara yang tetap jernih di tengah turbulensi politik dan pergeseran nilai sosial dari era Orde Lama hingga Reformasi.
Lahir dengan nama Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis pada 26 Mei 1936 di Nuremberg, Bavaria, Jerman, sosok yang kini akrab disapa Romo Magnis berasal dari keluarga bangsawan Silesia yang sangat terpandang. Silsilah keluarganya menunjukkan kedalaman tradisi Katolik dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi karakter utamanya. Ayahnya, Dr. Ferdinand Graf von Magnis, adalah seorang tuan tanah dan pemilik hutan luas di kawasan Eckersdorf, yang saat itu merupakan bagian dari wilayah Jerman sebelum berpindah ke Polandia pasca-Perang Dunia II. Ibunya, Maria Anna Gräfin von Magnis, berasal dari keluarga bangsawan Prinzessin zu Löwenstein, sebuah garis keturunan yang memiliki keterikatan kuat dengan nilai-nilai religiusitas dan keterlibatan publik di Eropa Tengah.
Kehidupan awal Franz von Magnis ditandai oleh ketegangan antara kemewahan kelas bangsawan dan realitas pahit perang. Sebagai putra sulung dari lima bersaudara, ia dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab besar, namun jalannya berbelok ketika Perang Dunia II menghancurkan stabilitas keluarganya. Pengalaman melarikan diri dari Silesia saat Tentara Merah Uni Soviet merangsek maju memberikan pelajaran pertama bagi Franz tentang kerentanan hidup dan penderitaan para pengungsi. Tragedi ini bukan hanya menghilangkan kampung halamannya, tetapi juga memutus keterikatannya pada privilese feodal, yang nantinya memudahkan dirinya untuk melebur ke dalam masyarakat Indonesia yang jauh lebih egaliter.
Setelah perang, Franz melanjutkan pendidikan di gimnasium kolese Yesuit di St. Blasien. Di lembaga pendidikan yang ketat inilah ia mulai merasakan panggilan religius yang kuat. Pada usia 10 tahun, sebuah usia yang sangat muda untuk pengambilan keputusan fundamental, Franz telah menetapkan hati untuk menjadi anggota Serikat Yesus (SJ). Panggilan ini bukan sekadar pelarian dari kekacauan pasca-perang, melainkan sebuah komitmen intelektual dan spiritual untuk melayani Gereja dalam skala global. Setelah lulus gimnasium pada tahun 1955, ia resmi memasuki novisiat Yesuit dan memulai formasi intelektualnya.
Formasi intelektual awal Franz von Magnis berpusat pada studi filsafat di Philosophissche Hochschule, Pullach, dari tahun 1957 hingga 1960. Di Pullach, ia tidak hanya mempelajari metafisika klasik, tetapi juga mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran modern yang menantang agama. Ketertarikannya pada Marxisme muncul sejak periode ini sebagai upaya apologetik; ia merasa perlu memahami argumen lawan demi memperkuat fondasi iman Kristiani. Pemahaman mendalam tentang dialektika Hegelian dan materialisme historis Marx yang ia pelajari di Jerman inilah yang nantinya akan menjadikannya salah satu pakar Marxisme paling otoritatif namun kritis di Indonesia.
Indonesia dan Inkulturasi Budaya Jawa
Pada tahun 1961, di usia 25 tahun, Franz von Magnis menerima perutusan misioner ke Indonesia, sebuah negeri yang saat itu sedang berada dalam gejolak revolusi di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno. Kedatangannya ke Indonesia merupakan hasil dari dorongan spiritual untuk memberikan diri sepenuhnya pada pelayanan di luar batas kebudayaan asalnya. Baginya, menjadi misionaris bukan berarti membawa kebudayaan Jerman ke Indonesia, melainkan membiarkan dirinya "dilahirkan kembali" dalam konteks budaya lokal.
Langkah pertama yang ia ambil setibanya di Indonesia adalah melakukan perendaman budaya (immersion) yang sangat intens. Alih-alih langsung bertugas di birokrasi Gereja di Jakarta, ia menuju Girisonta, Jawa Tengah, untuk mempelajari bahasa Jawa selama 13 bulan, diikuti dengan studi bahasa Indonesia selama lima bulan. Keputusannya untuk mendalami bahasa Jawa terlebih dahulu sebelum bahasa Indonesia mencerminkan sebuah insight antropologis yang tajam: bahwa kunci untuk memahami psikologi dan etika masyarakat di pusat kekuasaan Indonesia saat itu adalah melalui gerbang kebudayaan Jawa. Selama di Girisonta, ia tidak hanya belajar tata bahasa, tetapi juga cara hidup, etiket, dan sensitivitas rasa yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa.
Pengalaman di Girisonta dan Yogyakarta (1964-1968) selama masa studi teologi memberikan perspektif unik bagi Franz muda. Ia hidup bersama rekan-rekan mahasiswa pribumi dan menyaksikan langsung transisi politik yang mengerikan pada tahun 1965. Meskipun sebagai warga asing ia memiliki batasan ruang gerak, ia memilih untuk tetap berada di garis depan kemanusiaan dengan memberikan perhatian pada keluarga-keluarga tahanan politik pasca-peristiwa 30 September. Keterlibatannya dalam mengajar katekese di penjara-penjara bagi para tertuduh komunis menunjukkan sebuah sikap yang melampaui kebencian ideologis, sebuah manifestasi dari ajaran cinta kasih Kristiani yang tidak memandang latar belakang politik subjeknya.
Pada tanggal 31 Juli 1967, Franz von Magnis ditahbiskan menjadi imam dalam Serikat Yesus oleh Kardinal Justinus Darmojuwono di Semarang. Tahbisan ini menandai akhir dari masa formasinya dan awal dari pengabdian panjangnya sebagai seorang pastor yang beroperasi di ranah intelektual dan sosial. Khotbah pertamanya yang disampaikan dalam bahasa Jawa di Yogyakarta menjadi simbol keberhasilannya melakukan inkulturasi; ia bukan lagi "orang asing yang berkunjung," melainkan seorang rohaniwan yang mampu berbicara langsung ke hati masyarakat setempat menggunakan bahasa ibu mereka.
Integrasi Romo Magnis ke dalam identitas Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1977 ketika ia resmi beralih kewarganegaraan menjadi WNI. Dalam momen naturalisasi ini, ia memutuskan untuk menambahkan nama "Suseno" di belakang namanya. Pemilihan nama ini dilakukan melalui konsultasi dengan Romo Kuntara Wiryamartana, seorang pakar sastra Jawa, yang menyarankan nama dari tokoh pewayangan yang terdengar selaras dan memiliki makna positif (awalan "Su" berarti baik). Penambahan nama ini bukan sekadar formalitas hukum, melainkan sebuah pernyataan ontologis bahwa Franz Graf von Magnis telah sepenuhnya bertransformasi menjadi Franz Magnis-Suseno, seorang putra bangsa Indonesia yang tetap membawa akar Eropanya dalam harmoni dengan jiwa Jawanya.
Menara Gading yang Membumi: STF Driyarkara
Kontribusi terbesar Romo Magnis dalam dunia akademik Indonesia adalah perannya sebagai arsitek utama Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara di Jakarta. Setelah menyelesaikan studi teologi, ia diutus ke Jakarta pada tahun 1968 untuk merealisasikan visi Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara, SJ—seorang filsuf besar Indonesia yang baru saja wafat—untuk mendirikan sebuah pusat studi filsafat yang independen dan berkualitas di ibu kota.
Bersama dengan ordo Fransiskan (OFM) dan Keuskupan Agung Jakarta, Romo Magnis merintis berdirinya STF Driyarkara pada 2 Februari 1969. Lembaga ini didesain bukan hanya sebagai seminari untuk calon imam, tetapi sebagai sebuah institusi terbuka yang mempromosikan pemikiran kritis bagi masyarakat luas. Nama institusi ini diambil sebagai penghormatan kepada almarhum Romo Driyarkara, dan Romo Magnis menjadi motor penggerak utamanya selama puluhan tahun.
Di bawah asuhannya, STF Driyarkara melahirkan tokoh-tokoh penting di Indonesia, mulai dari aktivis kemanusiaan, penulis seperti Ayu Utami, hingga pejabat publik seperti Alexander Sonny Keraf. Filosofi pendidikan yang ia tanamkan adalah "Ex Philosophia Claritas" (Dari Filsafat Muncul Kejernihan), yang menekankan bahwa filsafat tidak boleh menjadi sekadar permainan kata-kata intelektual, melainkan alat untuk menjernihkan persoalan sosial dan moral yang dihadapi bangsa.
Kemampuan akademik Romo Magnis tidak terbatas pada satu institusi. Ia juga mengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, serta sering diundang sebagai dosen tamu di berbagai universitas di Eropa, termasuk di München dan Innsbruck. Luasnya jangkauan akademiknya memungkinkan pemikiran-pemikirannya tentang etika politik dan pluralisme tersebar di kalangan mahasiswa dari berbagai latar belakang keyakinan.
Magnum Opus dan Pemikiran Etika
Sebagai seorang penulis produktif, Romo Magnis telah menghasilkan lebih dari 44 buku dan 700 artikel yang menjadi rujukan wajib di bidang ilmu sosial dan filsafat di Indonesia. Pemikirannya dapat dikategorikan ke dalam tiga pilar utama: Etika Jawa, Kritik Marxisme, dan Etika Politik Modern.
Dialektika Etika Jawa
Karya monumentalnya, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi (terbit pertama kali dalam bahasa Jerman tahun 1981, edisi Indonesia 1984), merupakan hasil studi mendalamnya terhadap tatanan moral masyarakat Jawa. Dalam buku ini, Romo Magnis membedah konsep-konsep seperti "Rukun" dan "Hormat" bukan sekadar sebagai norma perilaku, melainkan sebagai fondasi ontologis masyarakat Jawa untuk menjaga harmoni kosmis. Ia berargumen bahwa etika Jawa memiliki kekuatan untuk mencegah konflik terbuka, namun juga memiliki kelemahan dalam hal transparansi dan kritik terhadap kekuasaan. Insight ini sangat relevan untuk memahami bagaimana kekuasaan dikelola di era Orde Baru dan bagaimana struktur feodal masih membayangi birokrasi modern Indonesia.
Menjinakkan Marxisme Melalui Sains
Meskipun komunisme adalah isu yang sangat sensitif di Indonesia, Romo Magnis berani menyajikan kajian ilmiah tentang pemikiran Karl Marx. Melalui buku-buku seperti Pemikiran Karl Marx (1999) dan Dalam Bayang-bayang Lenin (2003), ia mengedukasi masyarakat bahwa memahami Marxisme adalah kunci untuk mengkritiknya secara objektif. Ia sering mengutip pepatah bahwa seseorang harus mengetahui pikiran lawannya untuk bisa menghadapinya dengan tepat. Pemikirannya yang jernih memisahkan antara Marxisme sebagai teori kritik sosial dan komunisme sebagai praktik politik totaliter yang ia tolak dengan tegas. Namun, keberaniannya ini tidak jarang mendatangkan ancaman; pada tahun 2001, sekelompok massa membakar buku-bukunya karena dianggap menyebarkan paham terlarang, sebuah peristiwa yang ia tanggapi dengan tenang namun tegas sebagai bentuk kebodohan intelektual.
Etika Politik dan Demokrasi
Buku Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern (1986/2016) dianggap sebagai "kitab suci" bagi aktivis demokrasi di Indonesia. Romo Magnis meletakkan dasar bahwa legitimasi kekuasaan tidak hanya bersifat legal-formal, tetapi harus memiliki landasan moral. Ia memperjuangkan demokrasi sebagai sistem yang paling sesuai dengan martabat manusia karena memungkinkan adanya partisipasi dan kritik tanpa kekerasan. Baginya, kekuasaan yang dijalankan tanpa etika hanyalah "kekuasaan yang telanjang," yang pada akhirnya akan menghancurkan bangsa itu sendiri.
Melalui karya-karyanya, Romo Magnis berhasil mendemokratisasikan filsafat. Ia membawa pemikiran-pemikiran berat dari Aristoteles, Kant, hingga Habermas ke dalam konteks keseharian Indonesia, menjadikannya relevan bagi perbincangan publik tentang korupsi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial.
Diplomasi Iman dan Dialog Antaragama
Romo Magnis dikenal bukan hanya sebagai intelektual Katolik, tetapi sebagai pejuang pluralisme yang dihormati oleh berbagai kalangan, terutama komunitas Muslim di Indonesia. Prinsipnya dalam berdialog tidak didasarkan pada upaya untuk menyamakan semua agama (sinkretisme), melainkan pada kerja sama konkret untuk memecahkan masalah kemanusiaan.
Jembatan Persahabatan: Gus Dur dan Cak Nur
Salah satu bab paling menarik dalam biografinya adalah persahabatannya yang erat dengan tokoh-tokoh besar Islam seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ia sering bertemu Gus Dur dalam berbagai forum diskusi dan gerakan pro-demokrasi di era 1980-an dan 1990-an. Romo Magnis mengakui bahwa Gus Dur adalah sosok yang paling memperkaya perspektifnya tentang kemanusiaan; meskipun kadang ide-ide Gus Dur dianggap aneh, Magnis selalu merasa "terperkaya" setelah berbicara dengannya.
Kerja sama intelektualnya dengan Cak Nur juga sangat signifikan. Pada tahun 1973, Romo Magnis mengundang Cak Nur untuk memberikan kuliah tentang Islamologi di STF Driyarkara. Langkah ini sangat berani pada zamannya dan menjadi tonggak sejarah bagi keterbukaan lembaga pendidikan Katolik terhadap pemikiran Islam modern. Melalui dialog ini, Romo Magnis membantu membentuk pemahaman bahwa umat Katolik di Indonesia harus menjadi bagian integral dari perjuangan bangsa, bukan sebagai eksklusivitas minoritas yang terisolasi.
Pembela Hak Minoritas yang Tegas
Meskipun sangat menekankan harmoni, Romo Magnis tidak ragu untuk bersikap konfrontatif jika prinsip keadilan dan kebebasan beragama dilanggar. Pada tahun 2013, ia menulis surat terbuka yang sangat keras memprotes rencana pemberian penghargaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF) di New York. Ia menganggap penghargaan tersebut tidak pantas karena pemerintah dianggap gagal melindungi kelompok minoritas seperti jemaat Ahmadiyah dan Syiah dari kekerasan kelompok intoleran. Surat ini memicu perdebatan nasional dan internasional, menunjukkan bahwa Romo Magnis adalah seorang saksi yang tidak bisa dibungkam oleh protokoler kenegaraan.
Ia juga sering terlibat dalam memediasi konflik antarumat beragama. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh garis keras, termasuk Habib Rizieq Shihab pada tahun 2011 untuk mendiskusikan provokasi pembakaran Al-Quran oleh seorang pastor di Amerika, menunjukkan keberaniannya masuk ke dalam sarang konflik demi mencegah kekerasan terhadap umat Kristiani di Indonesia. Bagi Romo Magnis, dialog harus dilakukan dengan semua pihak, terutama mereka yang memiliki pandangan berbeda, demi menjaga keutuhan bangsa.
Kesaksian Moral dalam Penegakan Hukum
Di masa tuanya, peran Romo Magnis bergeser menjadi "suara hati bangsa" yang hadir dalam momen-momen krusial peradilan Indonesia. Keahliannya dalam bidang etika membuatnya sering dihadirkan sebagai saksi ahli dalam kasus-kasus yang menyangkut nurani dan keadilan publik.
Kasus Bharada E: Dilema Moral dan Ketaatan
Pada Desember 2022, Romo Magnis memberikan kesaksian dalam sidang kasus pembunuhan Brigadir J yang melibatkan Richard Eliezer (Bharada E). Dalam persidangan tersebut, ia membedah posisi etis seorang prajurit tingkat rendah yang menerima perintah salah dari atasan yang sangat berkuasa. Ia berargumen bahwa dalam situasi tekanan yang luar biasa, tanggung jawab moral individu dapat berkurang karena adanya konflik antara kewajiban ketaatan hierarkis dan suara hati nurani. Kesaksiannya memberikan perspektif humanis yang mendalam bagi hakim dan publik tentang kompleksitas moral di balik sebuah tindak pidana.
Sengketa Pilpres 2024: Menegur Etika Penguasa
Kehadirannya yang paling mengguncang publik adalah saat memberikan keterangan sebagai ahli dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK). Di hadapan para hakim konstitusi, Romo Magnis dengan lantang berbicara tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan dan pengabaian etika dalam proses pemilu. Ia mengingatkan bahwa hukum tanpa etika adalah penindasan, dan seorang pemimpin yang melanggar etika berarti telah mengkhianati amanah rakyat. Pernyataannya yang paling ikonik dalam sidang tersebut adalah peringatan agar kekuasaan tidak jatuh ke tangan mereka yang "melemparkan etika ke tempat sampah".
Keterlibatan ini menunjukkan bahwa Romo Magnis tetap relevan di setiap zaman. Ia tidak hanya berteori di ruang kelas, tetapi bersedia turun ke gelanggang hukum untuk memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan penting negara.
Spiritualitas dan Kehidupan Pribadi
Di balik sosok intelektualnya yang raksasa, Romo Magnis adalah seorang imam Yesuit yang tetap setia pada kaul kemiskinan dan ketaatannya. Kehidupan pribadinya mencerminkan sebuah kesederhanaan yang kontras dengan latar belakang bangsawan kelahirannya.
Gunung sebagai Ruang Kontemplasi
Salah satu sisi unik Romo Magnis yang jarang diketahui publik secara mendalam adalah hobinya mendaki gunung. Ia telah menaklukkan lebih dari 150 puncak gunung, mayoritas di Indonesia. Baginya, mendaki gunung bukan sekadar aktivitas fisik atau olahraga, melainkan sebuah latihan asketisme dan disiplin spiritual. Di atas gunung, ia merasa lebih dekat dengan kebesaran Tuhan dan keindahan alam ciptaan-Nya yang harus dijaga. Disiplin pendakian ini pula yang tampaknya memberinya energi untuk tetap aktif mengajar dan menulis meskipun telah memasuki usia kepala delapan.
Kecintaan pada Wayang dan Identitas Jawa
Penggunaan nama "Suseno" bukan sekadar hiasan. Romo Magnis adalah pencinta berat wayang kulit. Ia melihat pewayangan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai sebuah sistem filsafat yang sangat canggih untuk menjelaskan dilema-dilema moral manusia. Dalam bukunya Wayang dan Panggilan Manusia (1991), ia mengeksplorasi bagaimana tokoh-tokoh pewayangan merepresentasikan berbagai sisi karakter manusia dan bagaimana mereka bergulat dengan takdir dan kebebasan. Pemahamannya yang mendalam tentang wayang inilah yang membuatnya sangat mudah diterima oleh masyarakat Jawa, karena ia mampu menggunakan metafora lokal untuk menjelaskan konsep-konsep universal.
Misi Ad Extra dan Masa Depan Gereja Indonesia
Sebagai seorang Yesuit, Romo Magnis menjalankan misi Gereja dengan cara yang sangat kontekstual. Ia sering berbicara tentang misi ad extra—misi Gereja ke luar, ke tengah masyarakat yang majemuk.
Romo Magnis memiliki pandangan yang sangat jernih tentang tugas misioner. Ia menegaskan bahwa tujuan kehadiran Gereja di Indonesia bukan untuk "kristenisasi" atau menambah jumlah statistik umat Katolik. Baginya, Gereja hadir untuk menjadi saksi kasih Kristus melalui keterlibatan dalam perjuangan bangsa demi keadilan dan perdamaian. "Misi adalah memberi kesaksian," tuturnya, yang berarti membiarkan orang lain melihat nilai-nilai Injil melalui tindakan nyata yang membangun kehidupan bersama.
Ia sangat mendukung proses "inkulturasi" yang memungkinkan iman Katolik berbicara dalam bahasa dan simbol budaya lokal tanpa harus menjadi asing. Pandangannya ini sejalan dengan semboyan Mgr. Soegijapranata, "100% Katolik, 100% Indonesia," yang ia tafsirkan sebagai panggilan bagi setiap umat Katolik untuk menjadi warga negara yang paling loyal dan paling berkontribusi bagi Indonesia.
Apresiasi terhadap Pancasila
Bagi Romo Magnis, Pancasila adalah sebuah "rahmat" bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi umat Katolik. Ia melihat bahwa kelima sila Pancasila mengandung nilai-nilai etika modern yang universal, seperti kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan keadilan sosial, yang sangat selaras dengan Ajaran Sosial Gereja. Oleh karena itu, ia selalu menyerukan agar umat Katolik menjaga Pancasila sebagai satu-satunya konsensus yang memungkinkan bangsa yang sangat majemuk ini untuk tetap bersatu.
Penghargaan dan Pengakuan Dunia
Dedikasi Romo Magnis selama puluhan tahun telah diakui secara luas melalui berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional yang mencerminkan prestasinya sebagai ilmuwan, budayawan, dan pejuang kemanusiaan.
| Nama Penghargaan | Tahun | Lembaga / Negara | Bidang |
| Das Grosse Verdienstkreuz | 2001 | Republik Federasi Jerman | Jasa Kebudayaan & Dialog |
| Doktor Honoris Causa | 2002 | Universitas Luzern, Swiss | Teologi |
| Habibie Award | 2007 | The Habibie Center | Dialog Antaragama |
| Bintang Mahaputera Utama | 2015 | Presiden Republik Indonesia | Jasa Luar Biasa bagi Negara |
| Matteo Ricci Award | 2016 | Universitas Sacro Cuore, Italia | Misi & Dialog Internasional |
Penghargaan Bintang Mahaputera Utama yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 merupakan pengakuan tertinggi negara bagi warga negaranya yang dianggap telah memberikan kontribusi luar biasa dalam menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa. Bagi seorang yang lahir di Jerman, penghargaan ini adalah pengukuhan resmi bahwa ia bukan lagi "misionaris tamu," melainkan salah satu putra terbaik yang dimiliki Indonesia.
Meskipun menerima banyak penghargaan, Romo Magnis tetap menunjukkan integritasnya dengan berani menolak penghargaan jika dianggap bertentangan dengan nuraninya. Penolakannya terhadap Bakrie Award pada tahun 2007 terkait isu lumpur Lapindo menjadi bukti bahwa bagi beliau, kehormatan moral jauh lebih penting daripada popularitas atau materi.
Romo Franz Magnis-Suseno adalah sebuah anomali yang indah dalam sejarah Indonesia modern. Ia membuktikan bahwa identitas tidaklah bersifat statis atau eksklusif. Seseorang bisa lahir sebagai bangsawan Jerman, namun mati sebagai penjaga nurani bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bahwa iman Katolik yang kokoh tidak harus menjadikannya tertutup, melainkan justru menjadi dorongan untuk mencintai sesama yang berbeda keyakinan secara tulus.
Warisan terbesarnya bukan hanya institusi STF Driyarkara atau puluhan buku yang ia tulis, melainkan sebuah tradisi intelektual yang disebut "filsafat kritis." Ia mengajarkan bangsa ini untuk berani berpikir, berani mempertanyakan kekuasaan, dan berani membela mereka yang tertindas dengan argumen yang jernih dan berbasis etika. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, teladan hidupnya yang selalu mengedepankan dialog dan "ngopi bareng" bahkan dengan lawan politiknya adalah sebuah oase yang menyejukkan.*
Disarikan dari berbagai sumber.
