Philipus Joko Pinurbo, sering disapa Jokpin, lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia tumbuh dalam keluarga pendidik (ayah-ibu guru SD) dan sudah mencintai sastra sejak muda. Sejak bangku SMA ia gemar menulis puisi dan rutin mengirimkannya ke majalah. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Mardi Yuana Sukabumi (1973) dan SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976), kemudian ia bersekolah di Seminari St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (masuk 1977). Setelah itu ia melanjutkan studi Sastra Indonesia di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (lulus 1987). Setelah kuliah Joko Pinurbo sempat menjadi dosen di almamaternya, juga bekerja sebagai editor media dan karyawan di Grup Kompas Gramedia Yogyakarta. Pengalaman pendidikan di lingkup Katolik (seminari dan universitas Katolik) ini membentuk wawasan dan karyanya kelak.
Perjalanan Iman Katolik
Joko Pinurbo adalah seorang Katolik yang aktif. Pendidikan di seminari menunjukkan latar Katolik sejak muda. Ia sendiri pernah menyatakan bahwa di lingkungan sosial ia tidak menonjolkan dirinya sebagai penyair dan tetap biasa-biasa saja; setiap Minggu ia rutin pergi ke gereja seperti umat lain. Keimanannya tersirat dalam puisinya. Banyak puisi Jokpin yang memuat tema religius dan harapan bagi “orang kecil” (seperti tukang becak, tukang ojek, buruh) sebagai refleksi imannya. Misalnya, dalam puisi “Doa Malam” ia menggambarkan Tuhan sebagai “burung yang merdu” yang mendengarkan doa manusia. Ia mengaku terinspirasi oleh tulisan rohani (misalnya karya SJ Anthony de Mello) dan sosok Yesus, yang menurutnya membangkitkan harapan bagi kaum lemah. Dalam puisi “Celana Ibu”, ia menggunakan kisah Paskah secara sederhana: Maria menjahit celana untuk Yesus yang bangkit. Lewat cara bercerita yang humanis dan humoris ini, ia menjinakkan peristiwa rohani menjadi cerita sehari-hari yang segar. Jokpin juga sering memakai metafora domestik untuk menyiratkan makna spiritual; misalnya, ia membandingkan rumah dan kamar mandi dengan simbol gereja dan pembaptisan. Menurutnya, mandi mengingatkan kita pada pembaptisan yang membersihkan diri dari dosa. Dengan mengaitkan hal-hal biasa seperti mandi atau perabot rumah dengan makna religius, ia membawa pesan iman yang sederhana namun mengena dalam kehidupan sehari-hari.
Karya Sastra dan Gaya Penulisan
Sebagai sastrawan produktif, Joko Pinurbo menerbitkan banyak antologi puisi sejak akhir 1990-an. Buku kumpulan puisinya yang terkenal antara lain Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan (2005), hingga Kepada Cium (2007). Puisinya sangat diminati, bahkan beberapa dinyatakan “nyentrik” karena gaya bahasanya yang unik. Joko Pinurbo menulis dengan paduan nada romantis, satir, dan humor. Gaya khasnya adalah menggabungkan citraan sederhana sehari-hari dengan makna mendalam. Ia kerap memakai objek banal seperti celana, sarung, telepon genggam, kamar mandi, sebagai simbol dalam puisi. Kalimat-kalimatnya mudah dipahami namun sarat makna; karyanya “sarat makna namun mudah dicerna” dan kerap mengejutkan pembaca dengan kejenakaan yang segar. Misalnya, ia menampilkan kemegahan dan kejenakaan dalam satu baris, bahkan mempermainkan kata sehingga puisinya terasa ringan tetapi penuh kejutan. Selama hidupnya, Jokpin telah menulis ratusan puisi. Karya-karyanya tidak hanya populer di dalam negeri; banyak puisi Jokpin diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa (Inggris, Jerman, Rusia, Mandarin, dan lainnya) dan beberapa bahkan dimusikalisasi oleh komposer Indonesia ternama seperti Ananda Sukarlan dan Opie Andaresta. Khususnya, karyanya sering diundang tampil dalam festival sastra internasional, menjadikannya salah satu penyair Indonesia yang dikenal sampai mancanegara.
Penghargaan dan Kontribusi Budaya
Kontribusi Jokpin terhadap dunia sastra Indonesia diakui dengan berbagai penghargaan bergengsi. Beberapa di antaranya adalah Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2002), dan Kusala Sastra Khatulistiwa (tahun 2005 dan 2015). Majalah Tempo dua kali menobatkan Jokpin sebagai Tokoh Sastra Pilihan (tahun 2001 dan 2012). Pada tahun 2014 ia menerima SEA Write Award, penghargaan sastra Asia Tenggara untuk penyair terkemuka. Di tingkat lokal ia juga dihargai, misalnya mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Yogyakarta (2019) atas dedikasinya di bidang sastra.
Puisi-puisi Joko Pinurbo dikenal memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan gaya yang ringan namun cerdas. Menurut Katolikana, puisinya “sarat kecerdasan emosional dan kepekaan sosial” dan mampu menyentuh pembaca dengan keindahan keseharian. Ia tampil sebagai sosok rendah hati yang tekun berkarya dan mendorong perkembangan sastra di kalangan muda. Karya-karyanya menginspirasi banyak generasi, karena dengan bahasa sehari-hari ia mampu menyampaikan pesan universal tentang cinta, harapan, dan iman. Warisan puisi-puisinya yang mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesederhanaan akan terus menjadi inspirasi abadi bagi dunia sastra Indonesia.*
Disarikan dari berbagai sumber.
