Dunia olahraga Indonesia tidak mungkin dipisahkan dari nama Lucia Francisca Susi Susanti. Bagi masyarakat umum, ia adalah pahlawan yang mempersembahkan emas Olimpiade pertama bagi Republik. Namun, bagi komunitas Katolik Indonesia, Susi Susanti adalah representasi dari perpaduan antara talenta luar biasa, kerja keras tanpa henti, dan kedalaman iman yang berakar pada devosi kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai tokoh yang diangkat dalam platform Adextra Indonesia, biografi Susi Susanti bukan sekadar catatan statistik kemenangan, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana seorang perempuan Katolik keturunan Tionghoa menavigasi identitasnya di tengah kompleksitas politik Orde Baru, sembari tetap menjaga integritas spiritualnya di puncak popularitas dunia.
Akar Keluarga dan Fondasi Karakter di Tasikmalaya
Perjalanan hidup Lucia Francisca Susi Susanti dimulai di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 11 Februari 1971. Ia lahir dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Banowati, sebuah keluarga yang memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan dunia bulu tangkis. Nama "Lucia Francisca" yang disandangnya mencerminkan identitas baptis Katoliknya, yang kelak akan menjadi kompas moral dalam karier profesionalnya yang penuh tekanan.
Risad Haditono, sang ayah, bukan sekadar orang tua biasa bagi Susi. Ia adalah pelatih pertama, motivator utama, sekaligus sosok yang mewariskan mimpi besarnya yang sempat kandas. Risad sendiri merupakan mantan atlet bulu tangkis berbakat yang memiliki ambisi menjadi juara dunia. Namun, sebuah cedera lutut yang parah mengakhiri kariernya secara prematur, memaksa mimpi tersebut untuk "diistirahatkan" sampai ia melihat potensi luar biasa pada putri bungsunya. Risad mulai melatih Susi sejak usia tujuh tahun dengan disiplin yang sangat ketat, mencakup latihan memukul, gerakan kaki (footwork), dan ketahanan stamina yang melampaui standar anak seusianya.
Di kota kecil Tasikmalaya, bakat Susi mulai terasah di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya. Selama tujuh tahun di klub tersebut, Susi tidak hanya belajar teknik, tetapi juga belajar tentang pengorbanan. Saat teman-teman sebayanya menghabiskan waktu untuk bermain, Susi sering kali masih berada di lapangan, menambah porsi latihan secara sukarela. Kemampuan alaminya yang dikombinasikan dengan etos kerja "ekstra" ini membuatnya mendominasi berbagai kejuaraan tingkat junior di Jawa Barat dan nasional.
Transisi Ke Jakarta: Kawah Candradimuka di PB Jaya Raya
Pada tahun 1985, saat masih duduk di bangku SMP, Susi harus mengambil langkah besar yang mengubah hidupnya: pindah ke Jakarta. Keputusan ini diambil agar ia bisa mendapatkan pembinaan yang lebih intensif di level nasional. Meskipun ia sempat mendapatkan tawaran dari PB Djarum, Susi akhirnya memilih bergabung dengan PB Jaya Raya. Pilihan ini didasarkan pada pertimbangan keluarga; ia memiliki sanak saudara di Jakarta yang bisa membantunya jika terjadi sesuatu, mengingat usianya yang masih sangat muda saat itu.
Di Jaya Raya, Susi bertemu dengan sosok yang kelak menjadi arsitek di balik kesuksesannya: Liang Chiu Hsia. Liang adalah pelatih legendaris yang dikenal dengan metode "tangan besi". Di bawah bimbingan Liang, Susi ditempa dengan standar pelatihan yang sangat keras, yang sering kali digambarkan sebagai standar "Tiongkok" yang disiplin dan tanpa kompromi. Liang menanamkan prinsip bahwa shuttlecock tidak boleh sekali pun menyentuh lantai tanpa usaha maksimal; setiap bola harus dikejar, apa pun kondisinya.
Selama periode ini, Susi juga menempuh pendidikan formal di SMA Negeri Ragunan, sebuah sekolah yang dikhususkan bagi para atlet berprestasi. Pola hidupnya sangat terstruktur: latihan pagi sebelum sekolah, belajar di kelas, dan kembali latihan intensif di sore hingga malam hari. Fokusnya sangat tinggi, hingga ia rela melewatkan masa remaja yang biasa dijalani anak-anak lain demi satu tujuan: mengharumkan nama bangsa. Loyalitas dan disiplin tinggi ini menjadikannya primadona baru di Pelatnas Cipayung, tempat ia mulai bergabung sejak usia 14 tahun.
Anatomi Gaya Bermain: Keanggunan dan Ketangguhan Mental
Susi Susanti dikenal dunia bukan karena kekuatan pukulannya yang meledak-ledak, melainkan karena tekniknya yang sangat elegan dan pergerakannya yang anggun di lapangan. Dengan tinggi badan sekitar 165 cm, ia memiliki fleksibilitas tubuh yang luar biasa, yang memungkinkannya melakukan manuver peregangan kaki yang ekstrem—hampir menyerupai gerakan balet—yang sering berakhir dengan posisi full leg split untuk menjangkau bola-bola sulit. Gerakan ini menjadi tanda tangan (signature move) yang tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga memukau secara estetika.
Secara taktis, Susi adalah master dalam permainan reli panjang. Ia memiliki kecerdasan luar biasa dalam membaca permainan lawan dan menyusun strategi untuk melemahkan stamina mereka secara perlahan. Filosofi permainannya didasarkan pada ketahanan fisik dan konsentrasi tinggi; ia jarang melakukan kesalahan sendiri (unforced errors) dan mampu tetap tenang meskipun tertinggal poin jauh dari lawan. Pada tahun-tahun terakhir kariernya, ia juga menambahkan variasi serangan berupa smash tajam untuk mengejutkan lawan yang sudah terbiasa dengan permainan reli bertahannya.
Kekuatan utama Susi, bagaimanapun, terletak pada mentalitasnya yang baja. Ia memiliki buku catatan khusus untuk menganalisis kelemahan dan kelebihan setiap lawan yang ia hadapi. Kombinasi antara analisis intelektual, ketangkasan fisik, dan ketenangan emosional menjadikannya sebagai pemain tunggal putri paling ditakuti di awal hingga pertengahan tahun 1990-an.
Puncak Sejarah: Olimpiade Barcelona 1992 dan Emas Pertama
Olimpiade Barcelona 1992 adalah momen yang mendefinisikan seluruh karier Susi Susanti. Ini adalah pertama kalinya bulu tangkis dipertandingkan sebagai cabang olahraga resmi di Olimpiade. Sebagai pemain peringkat satu dunia saat itu, seluruh mata rakyat Indonesia tertuju padanya. Tekanan tersebut sangat luar biasa; setiap orang yang ia temui di tanah air sebelum keberangkatannya selalu memberikan pesan yang sama: "Harus juara!".
Beban ekspektasi ini sempat membuat Susi mengalami gangguan psikologis. Pada malam sebelum final melawan musuh bebuyutannya, Bang Soo-hyun dari Korea Selatan, Susi tidak bisa tidur sama sekali karena pikirannya terus memutar skenario pertandingan. Ketegangan ini terlihat jelas di set pertama pertandingan final, di mana Susi tampak kaku dan kalah 5-11. Namun, di saat-saat kritis itulah, ketenangan yang bersumber dari iman dan disiplin mulai mengambil alih. Susi bangkit di set kedua (11-5) dan mendominasi set ketiga dengan kemenangan telak 11-3.
Saat kok terakhir jatuh di bidang lapangan Bang Soo-hyun, Susi berteriak kencang—sesuatu yang jarang ia lakukan—sebagai bentuk pelepasan beban tanggung jawab yang selama ini ia pikul. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun sejarah keikutsertaan Indonesia di Olimpiade, lagu Indonesia Raya berkumandang dan Bendera Merah Putih berada di posisi tertinggi. Kemenangan ini semakin manis karena beberapa jam kemudian, Alan Budikusuma, kekasihnya, juga memenangkan medali emas di nomor tunggal putra. Prestasi bersejarah ini tidak hanya membanggakan bangsa tetapi juga mengukuhkan Susi sebagai ikon nasional yang melampaui batas-batas etnis dan agama.
| Olimpiade Barcelona | 1992 | Barcelona, Spanyol | Emas (Tunggal Putri) | |
| Olimpiade Atlanta | 1996 | Atlanta, AS | Perunggu (Tunggal Putri) | |
| Kejuaraan Dunia IBF | 1993 | Birmingham, Inggris | Juara (Emas) | |
| Kejuaraan Dunia IBF | 1991 | Copenhagen, Denmark | Medali Perunggu | |
| Kejuaraan Dunia IBF | 1995 | Lausanne, Swiss | Medali Perunggu | |
| All England Open | 1990 | London, Inggris | Juara (Emas) | |
| All England Open | 1991 | London, Inggris | Juara (Emas) | |
| All England Open | 1993 | London, Inggris | Juara (Emas) | |
| All England Open | 1994 | Birmingham, Inggris | Juara (Emas) |
Perjalanan Spiritual: Rosario dan Kekuatan Doa
Sebagai seorang atlet Katolik, Susi Susanti tidak pernah memisahkan antara perjuangan di lapangan dengan kehidupan rohaninya. Iman bukan sekadar identitas di KTP, melainkan sumber kekuatan yang nyata. Susi memiliki devosi yang sangat kuat kepada doa Rosario. Ia mengungkapkan bahwa ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa Rosario setiap malam, terutama selama periode turnamen yang penuh tekanan. Doa ini dianggapnya sebagai jangkar yang menjaga jiwanya tetap tenang dan fokus.
Ada sebuah sisi "mistis" dalam hubungan Susi dengan Rosarionya. Ia sering mengalami kejadian di mana Rosarionya hilang atau patah tepat sebelum ia menghadapi kekalahan atau tantangan yang sangat berat dalam sebuah turnamen. Baginya, kejadian-kejadian tersebut merupakan semacam "tanda" dari Tuhan untuk tetap waspada dan berserah diri. Karena fenomena yang berulang ini, Susi terbiasa membawa lebih dari satu Rosario di dalam tasnya setiap kali bepergian ke luar negeri, untuk memastikan ia selalu memiliki sarana untuk berdoa, apa pun yang terjadi.
Pengalaman spiritual lainnya yang sangat membekas terjadi pada All England 1989. Susi menceritakan tentang seorang nenek peminta-minta di tengah salju London yang dingin. Meskipun uang terkecil yang ia miliki saat itu adalah lembaran lima pound (yang nilainya cukup besar bagi seorang atlet muda saat itu), Susi tetap memberikannya kepada nenek tersebut. Genggaman tangan hangat dari sang nenek di tengah cuaca beku memberikan efek spiritual yang luar biasa baginya; ia merasa Tuhan hadir melalui sentuhan itu untuk memberikan semangat bagi kariernya yang baru saja dimulai.
Kisah unik lainnya adalah keinginannya yang sangat kuat untuk berziarah ke Lourdes, Prancis. Terdapat cerita yang menyebutkan bahwa Susi pernah sengaja membiarkan dirinya kalah dalam sebuah pertandingan atau turnamen tertentu semata-mata agar ia bisa memiliki waktu luang untuk mengunjungi gua Maria di Lourdes. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Susi, perjumpaan spiritual dengan Bunda Maria terkadang jauh lebih berharga daripada piala tambahan di lemari prestasinya. Selebrasi tanda salib yang selalu ia lakukan setiap kali pertandingan usai adalah pernyataan publik yang tenang namun tegas bahwa segala kejayaannya adalah milik Tuhan.
Tantangan Identitas: SBKRI dan Diskriminasi Era Orde Baru
Di balik gemerlap medali emas, Susi Susanti menyimpan luka batin kolektif yang juga dirasakan oleh banyak atlet keturunan Tionghoa di era Orde Baru. Meskipun mereka berjuang hingga berdarah-darah demi nama Indonesia, status kewarganegaraan mereka sering kali dipersulit oleh birokrasi yang diskriminatif. Salah satu hambatan utama adalah kewajiban memiliki SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia).
Kasus yang paling mencolok terjadi pada pelatihnya, Liang Chiu Hsia. Meskipun Liang adalah otak di balik emas Olimpiade 1992, ia mengalami kesulitan luar biasa dalam mengurus status kewarganegaraannya. Dalam film Susi Susanti: Love All, digambarkan bagaimana Susi merasa sangat terpukul ketika menyadari bahwa prestasi dunianya tidak secara otomatis memberikan perlindungan dan pengakuan yang adil bagi dirinya dan orang-orang yang berjasa baginya.
Diskriminasi ini mencapai puncaknya pada kerusuhan Mei 1998, di mana etnis Tionghoa menjadi target kekerasan sistemik di Jakarta dan beberapa kota lainnya. Susi, yang saat itu merupakan pahlawan nasional, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa rumah dan keluarganya terancam oleh sentimen rasial. Pengalaman ini menjadi ujian berat bagi patriotisme Susi. Namun, alih-alih berpaling dari Indonesia, ia justru menunjukkan keteladanan Kristen dalam hal pengampunan dan ketahanan. Ia tetap mencintai Indonesia dan terus mengabdi melalui jalur olahraga, membuktikan bahwa "cinta tidak pernah kalah" (love all).
Dominasi di Piala Dunia dan Turnamen Grand Prix
Selain Olimpiade dan All England, Susi Susanti memiliki catatan rekor yang luar biasa di ajang Piala Dunia (World Cup) dan World Grand Prix Finals. Ia memenangkan lima gelar Piala Dunia dan enam gelar World Grand Prix Finals, sebuah pencapaian yang menunjukkan konsistensi tingkat tinggi selama lebih dari satu dekade. Dominasinya begitu kuat sehingga selama lima tahun berturut-turut (1990-1994), ia hampir tidak terkalahkan di ajang-ajang besar tersebut.
Rivalitas Susi dengan pemain-pemain Tiongkok seperti Tang Jiuhong, Huang Hua, dan Ye Zhaoying menjadi tontonan klasik yang selalu dinantikan penggemar bulu tangkis dunia. Pertandingan melawan mereka sering kali berlangsung lebih dari satu jam, menguras fisik dan mental kedua belah pihak. Kemenangan Susi atas mereka bukan hanya kemenangan teknis, tetapi juga kemenangan strategi dan kesabaran, yang sering kali disebut oleh pengamat sebagai "balet di atas karpet hijau".
| Turnamen | Tahun | Lawan di Final | Skor | Hasil |
| World GP Finals | 1990 | Tang Jiuhong (CHN) | 8–11, 11–5, 12–10 | Juara |
| World GP Finals | 1991 | Lee Heung-soon (KOR) | 9–11, 11–8, 11–1 | Juara |
| World GP Finals | 1992 | Sarwendah K. (INA) | 9–11, 11–3, 11–4 | Juara |
| World GP Finals | 1993 | Ye Zhaoying (CHN) | 11–3, 12–9 | Juara |
| World GP Finals | 1994 | Ye Zhaoying (CHN) | 4–11, 11–2, 11–4 | Juara |
| World GP Finals | 1996 | Ye Zhaoying (CHN) | 11–4, 11–1 | Juara |
| World Cup (Piala Dunia) | 1989 | Han Aiping (CHN) | 11–5, 11–4 | Juara |
| World Cup (Piala Dunia) | 1993 | Lim Xiaoqing (CHN) | 11–7, 11–5 | Juara |
| World Cup (Piala Dunia) | 1994 | Bang Soo-hyun (KOR) | 12–9, 11–6 | Juara |
| World Cup (Piala Dunia) | 1996 | Wang Chen (CHN) | 11–7, 11–4 | Juara |
| World Cup (Piala Dunia) | 1997 | Ye Zhaoying (CHN) | 11–8, 11–5 | Juara |
Peran Susi dalam Keberhasilan Tim Beregu: Uber dan Sudirman
Susi Susanti bukan hanya seorang "petarung tunggal". Ia adalah pemimpin alami di lapangan yang mampu mengangkat moral seluruh tim. Di ajang Piala Sudirman 1989, yang diadakan di Jakarta, Susi menjadi salah satu pilar penting yang membawa Indonesia meraih gelar juara untuk pertama kalinya (dan sejauh ini menjadi satu-satunya gelar Piala Sudirman bagi Indonesia).
Namun, momen paling emosional dalam karier beregunya adalah saat membawa tim Uber Indonesia mematahkan dominasi Tiongkok pada tahun 1994 di Jakarta. Sebagai tunggal pertama, Susi selalu memikul beban untuk memberikan poin pembuka bagi Indonesia. Ketangguhannya memberikan kepercayaan diri bagi pemain lain seperti Mia Audina dan pasangan ganda putri. Indonesia berhasil mempertahankan Piala Uber pada tahun 1996 di Hong Kong, sebuah era emas yang hingga kini belum mampu diulang oleh generasi penerus tunggal putri Indonesia.
Loyalitas Susi terhadap tim nasional terlihat jelas saat ia tetap bersedia bertanding meskipun dalam kondisi cedera. Pada tahun 1995, ia nekat turun di beberapa turnamen Grand Prix dan ajang beregu meskipun kakinya belum pulih benar, demi kepentingan poin negara dan tim. Semangat pengorbanan ini adalah implementasi dari ajaran Kristiani tentang mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kenyamanan pribadi.
Pernikahan Emas: Alan Budikusuma dan Keluarga Wiratama
Kisah cinta Susi Susanti dan Alan Budikusuma sering kali disebut sebagai romansa paling legendaris dalam sejarah olahraga Indonesia. Mereka bertemu di Pelatnas Cipayung saat masih remaja dan menjalin hubungan di tengah jadwal latihan yang padat. Dunia mengenal mereka sebagai "Pasangan Emas" setelah keduanya sama-sama meraih medali tertinggi di Olimpiade Barcelona.
Setelah berpacaran cukup lama, mereka akhirnya menikah pada tanggal 9 Februari 1997 di Ballroom Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan. Pernikahan ini menjadi salah satu peristiwa sosial terbesar saat itu, dengan biaya yang diperkirakan mencapai Rp1 miliar—angka yang sangat fantastis pada masanya. Namun, di balik kemewahan resepsi, pernikahan mereka dibangun di atas fondasi iman Katolik yang kokoh. Upacara sakramen perkawinan dilakukan dengan penuh khidmat, menandai dimulainya babak baru kehidupan mereka sebagai pasangan suami-istri yang seiman.
Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak: Laurencia Averina yang lahir pada tahun 1999, Albertus Edward pada tahun 2000, dan Sebastianus Frederick pada tahun 2003. Nama-nama baptis yang mereka berikan kepada anak-anaknya menunjukkan keinginan Susi dan Alan untuk membesarkan keturunan mereka dalam tradisi Gereja Katolik. Menariknya, meskipun kedua orang tua mereka adalah legenda besar bulu tangkis, Susi dan Alan tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk menjadi atlet. Mereka memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk mengejar jalur akademik dan minat lainnya, mencerminkan gaya pengasuhan yang menghargai kehendak bebas dan talenta masing-masing individu.
Transformasi Menjadi Pengusaha: ASTEC dan Fontana
Keputusan Susi untuk pensiun dini pada usia 26 tahun dipicu oleh kehamilan anak pertamanya. Meskipun ia masih berada di jajaran elit dunia, ia memilih untuk fokus pada peran barunya sebagai seorang ibu dan istri. Namun, jiwa kompetitif dan semangat kerjanya tidak pernah padam. Bersama Alan, ia mendirikan perusahaan peralatan olahraga dengan merek ASTEC (Alan and Susy Technology) pada tahun 2004.
Pendirian ASTEC merupakan langkah strategis untuk memajukan industri olahraga lokal. Mereka menggunakan teknologi material dari Jepang namun memproduksi raket-raket tersebut di Tiongkok untuk menekan biaya agar bisa terjangkau oleh masyarakat luas di Indonesia. Melalui bisnis ini, Susi dan Alan ingin memastikan bahwa bibit-bibit muda bulu tangkis Indonesia memiliki akses terhadap peralatan yang berkualitas tinggi tanpa harus bergantung pada merek asing yang mahal.
Selain ASTEC, Susi juga mengembangkan bisnis di sektor kesehatan dan kebugaran dengan membuka "Fontana", sebuah pusat refleksologi kaki dan fisioterapi olahraga. Bisnis ini ia rintis bersama mantan rekan setimnya, Elizabeth Latief. Fontana kini telah berkembang menjadi jaringan yang memiliki beberapa cabang di Jakarta (seperti Kelapa Gading, Sunter, dan Pondok Indah) serta di Bogor. Keberhasilan bisnis ini membuktikan bahwa Susi memiliki kecakapan manajemen yang ia asah selama menempuh pendidikan di STIE Perbanas.
Pengabdian di PBSI: Membangun Generasi Penerus
Darah bulu tangkis yang mengalir di tubuh Susi membuatnya tidak bisa tinggal diam melihat pasang surut prestasi tunggal putri Indonesia setelah era dirinya berakhir. Ia kembali terpanggil untuk melayani negara melalui jalur birokrasi olahraga. Pada periode kepengurusan PBSI 2016-2020 di bawah pimpinan Wiranto, Susi dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres).
Tugas ini sangat berat karena ia harus mengelola seluruh atlet di Pelatnas Cipayung, mulai dari level junior hingga senior di lima sektor pertandingan. Susi menerapkan kedisiplinan tinggi yang pernah ia rasakan di era Liang Chiu Hsia. Ia sering hadir langsung di pinggir lapangan untuk memantau latihan, memberikan motivasi, dan berbagi "buku saktinya" tentang cara menganalisis lawan. Selama masa jabatannya, Indonesia berhasil meraih beberapa prestasi signifikan, termasuk menjaga tradisi medali di turnamen-turnamen besar dan mulai membangkitkan kembali sektor tunggal putri yang sempat mengalami masa paceklik berkepanjangan.
Susi menekankan bahwa menjadi atlet profesional bukan hanya soal bakat, tetapi soal "mental juara" dan ketaatan pada program latihan. Ia selalu mengingatkan para atlet muda agar tidak mudah puas dengan popularitas di media sosial, melainkan harus tetap fokus pada prestasi di lapangan. Meskipun ia akhirnya digantikan oleh Rionny Mainaky pada periode berikutnya, kontribusi Susi dalam memperbaiki sistem pembinaan atlet muda tetap diakui sebagai salah satu periode transisi penting bagi PBSI.
Representasi Budaya dan Film Love All
Kisah hidup Susi Susanti yang inspiratif akhirnya diangkat ke layar lebar melalui film biopik berjudul Susi Susanti: Love All yang dirilis pada Oktober 2019. Disutradarai oleh Sim F, film ini dibintangi oleh aktris Laura Basuki sebagai Susi dan Dion Wiyoko sebagai Alan Budikusuma. Film ini tidak hanya menampilkan sisi kemenangan Susi, tetapi juga secara berani mengeksplorasi konflik batinnya terkait identitas keturunan Tionghoa dan situasi politik yang tidak menentu pada masa itu.
Judul "Love All" diambil dari istilah dalam bulu tangkis yang berarti skor nol-nol saat pertandingan dimulai, namun film ini memberi makna filosofis yang lebih dalam: mencintai semua orang dan negara tanpa syarat, terlepas dari segala diskriminasi yang diterima. Laura Basuki, melalui bimbingan langsung dari Liang Chiu Hsia, berhasil memerankan gaya bermain Susi yang khas dengan sangat akurat, yang akhirnya membawanya memenangkan Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik. Keberadaan film ini semakin memperkuat posisi Susi Susanti sebagai pahlawan budaya yang menyatukan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai kemanusiaan dan sportivitas.
Warisan bagi Umat Katolik dan Bangsa Indonesia
Biografi Lucia Francisca Susi Susanti memberikan pelajaran berharga bagi kita semua tentang arti sebuah pengabdian. Bagi umat Katolik, ia adalah teladan nyata dari ajaran Gereja tentang bagaimana mengembangkan talenta (parabel talenta) hingga mencapai potensi maksimal untuk memuliakan Pencipta. Susi tidak pernah menyombongkan kemampuannya; ia selalu sadar bahwa tanpa berkat Tuhan dan dukungan keluarga, ia hanyalah seorang gadis kecil dari Tasikmalaya.
Karakter Susi yang rendah hati, disiplin, dan religius menjadikannya sosok yang sangat dihormati lintas generasi. Ia membuktikan bahwa kesuksesan duniawi tidak perlu membuat seseorang kehilangan akar imannya. Sebaliknya, iman yang kuat justru menjadi mesin penggerak untuk mencapai prestasi yang tampaknya mustahil. Bagi Adextra Indonesia, menampilkan profil Susi Susanti adalah upaya untuk mengingatkan kita kembali bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mampu memberikan yang terbaik bagi negaranya, sembari tetap setia pada kebenaran dan cinta kasih yang diajarkan oleh Kristus.
Di masa pensiunnya, Susi tetap aktif sebagai duta olahraga dan motivator. Ia sering diundang untuk berbagi cerita tentang perjuangan hidupnya kepada atlet muda, mahasiswa, hingga komunitas religius. Kehadirannya selalu membawa pesan optimisme: bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki kemauan keras dan iman yang teguh kepada Tuhan.
Sebagai penutup, perjalanan Lucia Francisca Susi Susanti adalah sebuah simfoni tentang kerja keras yang bertemu dengan rahmat Tuhan. Dari lapangan bulu tangkis di Tasikmalaya hingga podium tertinggi di Barcelona, ia telah menuliskan sejarah emas yang tidak akan pernah luntur oleh waktu. Ia adalah "Ratu" di lapangan, "Ibu" di rumah, "Pengusaha" di dunia bisnis, dan "Anak Tuhan" yang setia dalam setiap hembusan napas pengabdiannya.*
/Disarikan dari berbagai sumber. AdextraID