Dinamika sejarah pers dan perkembangan intelektualitas Katolik di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sosok Petrus Kanisius Ojong. Sebagai figur sentral yang meletakkan fondasi bagi salah satu imperium media terbesar di Asia Tenggara, Kelompok Kompas Gramedia, P.K. Ojong bukan sekadar seorang pengusaha atau jurnalis. Ia adalah seorang pemikir, pendidik, dan aktivis kemanusiaan yang integritas pribadinya berakar kuat pada nilai-nilai Kristiani dan etos kerja yang asketik.1 Lahir dengan nama Auw Jong Peng Koen di Bukittinggi pada 25 Juli 1920, perjalanan hidupnya merangkum transformasi identitas seorang peranakan Tionghoa menjadi sosok patriot yang sepenuhnya mengabdikan diri pada pencerdasan kehidupan bangsa Indonesia.4
Akar Genealogi dan Formasi Karakter di Tanah Minangkabau
Eksistensi Petrus Kanisius Ojong berawal dari garis
keturunan yang menjunjung tinggi ketekunan imigran. Ayahnya, Auw Jong Pauw,
adalah seorang perantau dari Pulau Quemoy (Kinmen), sebuah wilayah di Selat
Taiwan yang secara historis menjadi basis etnis Hokkien.2 Hijrahnya Auw Jong Pauw ke Sumatera Barat pada masa
pemerintahan Hindia Belanda didorong oleh tekanan ekonomi dan keinginan untuk
membangun masa depan yang lebih baik. Di ranah Minang, tepatnya di Payakumbuh,
Auw Jong Pauw bertransformasi dari seorang petani menjadi juragan tembakau yang
sukses.2 Keberhasilan ini tidak diraih secara instan, melainkan
melalui kerja keras yang melelahkan, sebuah nilai yang kelak ditularkannya
kepada Peng Koen.
Meskipun Auw Jong Pauw menjadi salah satu orang terkaya
di Payakumbuh—ditandai dengan kepemilikan salah satu dari segelintir mobil di
wilayah tersebut—ia menerapkan pola asuh yang jauh dari kemewahan.2 Peng Koen, sebagai anak sulung dari istri kedua, Njo
Loan Eng Nio (yang kemudian dibaptis dengan nama Elizabeth), tumbuh dalam
lingkungan yang menuntut disiplin tinggi.7
Ayahnya sering memberikan pesan yang sangat spesifik, seperti keharusan
menghabiskan setiap butir nasi di piring, sebuah simbol penghormatan terhadap
rezeki dan kerja keras orang lain.6
Karakter asketik ini menjadi ciri khas Ojong hingga akhir hayatnya, di mana ia
tetap hidup sederhana meskipun telah memimpin perusahaan besar.
Kelahiran Peng Koen sendiri diwarnai dengan nuansa
multikultural yang unik. Ia dilahirkan dengan bantuan seorang dokter
berkebangsaan Jerman di loteng rumah kakek dari pihak ibunya di Bukittinggi.7 Karena ukuran kepalanya yang relatif besar saat lahir,
ia sempat mendapat julukan "Si Kepala Gede" dari lingkungan
keluarganya.7 Namun, ukuran fisik
ini seolah menjadi metafora bagi kapasitas intelektual yang akan ia tunjukkan
di masa depan.
Profil Dasar Petrus Kanisius Ojong
|
Kategori |
Informasi Detail |
|
Nama Lahir |
Auw Jong Peng Koen |
|
Nama Baptis |
Andreas (kemudian
menggunakan Petrus Kanisius) |
|
Tempat Lahir |
Bukittinggi, Sumatera
Barat |
|
Tanggal Lahir |
25 Juli 1920 |
|
Wafat |
31 Mei 1980 (Jakarta) |
|
Nama Ayah |
Auw Jong Pauw |
|
Nama Ibu |
Njo Loan Eng Nio
(Elizabeth) |
|
Istri |
Catherine Oei Kian Kiat |
|
Bidang Utama |
Jurnalisme, Pendidikan,
Bisnis Media |
Transformasi Spiritual dan Inisiasi dalam Iman Katolik
Perjumpaan Petrus Kanisius Ojong dengan agama Katolik
bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari lingkungan pendidikan yang ia
tempuh. Saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS) di Payakumbuh,
Peng Koen mulai bersentuhan dengan ajaran-ajaran Kristiani yang disampaikan
melalui lingkungan kapel dan sekolah.2
Ketertarikannya pada ajaran Katolik bukan sekadar ketertarikan intelektual,
melainkan sebuah panggilan spiritual yang mendalam. Bersama ibunya, ia akhirnya
memutuskan untuk dibaptis menjadi Katolik oleh Pastor van Hoff.7
Pada momen pembaptisan tersebut, ia menerima nama baptis
Andreas.4 Nama "Petrus Kanisius" sendiri baru ia pilih
secara resmi di kemudian hari, terutama saat periode anjuran pemerintah Orde
Baru bagi warga keturunan Tionghoa untuk mengganti nama mereka.9 Pemilihan nama Petrus Kanisius memiliki makna simbolis
yang sangat kuat. Petrus Kanisius adalah seorang Jesuit pembaharu gereja dan
pendidik ulung. Dengan memilih nama tersebut, Peng Koen tidak hanya
mempertahankan inisial "P.K." yang sudah sangat dikenal publik,
tetapi juga menyelaraskan visinya dengan semangat pendidikan dan pembaruan
intelektual yang dibawa oleh Santo Petrus Kanisius.9
Keimanan Ojong adalah iman yang termanifestasi dalam
tindakan nyata. Ia bukan tipe Katolik yang menonjolkan ritualitas luar,
melainkan seorang yang menghidupi etika Kristiani dalam setiap keputusan bisnis
dan jurnalistiknya.3 Baginya, bekerja di
dunia pers adalah bentuk kerasulan awam untuk menyebarkan kebenaran dan membela
keadilan bagi kaum yang tertindas.11
Jejak Pendidikan: Membangun Kapasitas Intelektual
Pendidikan formal P.K. Ojong mencerminkan ketekunan
seorang otodidak yang sangat disiplin. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar
di HCS Payakumbuh dan Padang, ia melanjutkan studinya ke Hollandsche Chineesche
Kweekschool (HCK) di Batavia (Jakarta).2 HCK
adalah sekolah guru yang menjadi pilihan utama Ojong karena biayanya yang
terjangkau dan ketersediaan asrama, faktor yang sangat krusial mengingat
kondisi keuangan keluarganya sempat terguncang setelah wafatnya sang ayah pada
tahun 1933.7
Selama masa sekolah di HCK yang berlokasi di kawasan
Meester Cornelis (Jatinegara), Peng Koen menonjol sebagai siswa yang haus akan
bacaan. Ia bertugas sebagai ketua perkumpulan siswa "Tung Sie Ie
Tjia", di mana salah satu tanggung jawab utamanya adalah mengelola bahan
bacaan bagi para anggota asrama.2
Kegemarannya membaca tidak terbatas pada buku pelajaran; ia menelaah
koran-koran besar seperti Java Bode dan majalah-majalah internasional,
tidak hanya untuk mengetahui isinya, tetapi untuk membedah teknik penulisan dan
penyajian gagasannya.7 Karakter
"kutu buku" ini membuatnya dijuluki teman-temannya sebagai
"verstrooide professor" (profesor pelupa) karena ia seringkali begitu
terlarut dalam bacaan hingga melupakan lingkungan sekitarnya.4
Setelah lulus dari sekolah guru pada Agustus 1940, Ojong
memulai karier profesionalnya sebagai pendidik.3 Namun, aspirasi intelektualnya tidak berhenti di sana.
Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Rechts Hoge School (RHS)
yang sekarang dikenal sebagai Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Ketekunannya berbuah gelar Sarjana Hukum pada tahun 1951, sebuah latar belakang
pendidikan yang kelak memberikan landasan hukum dan etika yang kuat dalam
memimpin institusi pers.2
Tahapan Pendidikan P.K. Ojong
|
Tingkat |
Nama Sekolah |
Lokasi |
Hasil |
|
Dasar |
Hollandsch Chineesche
School (HCS) |
Payakumbuh & Padang |
Lulus |
|
Menengah/Guru |
Hollandsche Chineesche
Kweekschool (HCK) |
Jatinegara, Jakarta |
Lulus 1940 |
|
Tinggi |
Rechts Hoge School
(Fakultas Hukum UI) |
Jakarta |
Sarjana Hukum 1951 |
Karier Guru dan Peralihan ke Dunia Jurnalistik
Pekerjaan pertama Petrus Kanisius Ojong adalah guru di
Hollandsch Chineesche Broederschool St. Johannes di kawasan Jakarta Kota.10 Sebagai seorang pengajar muda, ia menanamkan nilai-nilai
kedisiplinan kepada murid-muridnya. Namun, perjalanan kariernya di dunia
pendidikan terpaksa terhenti secara mendadak ketika tentara Jepang menduduki
Hindia Belanda pada tahun 1942.4
Penutupan sekolah-sekolah oleh otoritas pendudukan Jepang membuat Ojong
kehilangan mata pencaharian utamanya, yang kemudian memaksanya untuk mencari
cara lain dalam mengekspresikan gagasannya.3
Masa pendudukan Jepang menjadi periode inkubasi bagi
minat jurnalistik Ojong. Ia mulai rajin mengumpulkan kliping berita perang dari
surat kabar Kong Po, yang ia simpan dengan teliti.7 Pengetahuan yang ia himpun dari kliping-kliping ini
kelak menjadi modal dasar bagi tulisan-tulisannya yang fenomenal mengenai
sejarah militer. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Ojong resmi
memasuki dunia pers profesional pada tahun 1946 dengan bergabung bersama
majalah mingguan Star Weekly.2 Di
bawah bimbingan wartawan senior Khoe Woen Sioe dan Injo Beng Goat, Ojong
mengasah ketajamannya sebagai penulis dan redaktur.7
Di Star Weekly, Ojong menunjukkan kemampuan luar
biasa dalam menerjemahkan isu-isu global yang rumit menjadi tulisan yang mudah
dicerna oleh pembaca awam.6 Ia tidak hanya
menulis tentang peristiwa sehari-hari, tetapi juga melakukan analisis mendalam
mengenai kebijakan pemerintah. Namun, integritas intelektualnya seringkali
berbenturan dengan iklim politik yang memanas. Pada tahun 1961, Star Weekly
dibredel oleh pemerintah karena kritik-kritik tajam Ojong dalam ulasan luar
negeri yang dianggap tidak sejalan dengan garis politik penguasa saat itu.2
Peran dalam Isu Asimilasi dan Kebangsaan
Sebagai seorang intelektual dari etnis Tionghoa, P.K.
Ojong memiliki pandangan yang sangat jernih dan tegas mengenai integrasi
nasional. Ia secara konsisten menolak eksklusivitas etnis dan menjadi pendukung
utama gerakan asimilasi wajar.6
Pandangannya ini menempatkannya pada posisi yang berlawanan dengan organisasi
Baperki yang dipimpin oleh Siauw Giok Tjhan, yang lebih condong pada pendekatan
integrasi tanpa asimilasi budaya total.15
Ojong meyakini bahwa proses menjadi Indonesia yang
seutuhnya bagi warga keturunan Tionghoa harus dilakukan melalui peleburan diri
ke dalam penduduk asli secara sukarela, baik dalam aspek pemikiran maupun
tindakan sosial.9 Ia terlibat aktif
sebagai salah satu dari "Sepuluh Tokoh" yang menandatangani
pernyataan "Menuju Asimilasi yang Wajar" pada Maret 1960.15 Gerakan ini kemudian berlanjut pada deklarasi
"Piagam Asimilasi" di Bandungan, Ambarawa, pada tahun 1961.15 Baginya, asimilasi adalah jalan keluar untuk menghapus
diskriminasi dan mewujudkan persatuan bangsa berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika.2
Dalam konteks ini, keterlibatannya dalam Lembaga
Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) menunjukkan komitmen politiknya untuk
mendukung arus nasionalisme Indonesia yang inklusif.16 Perjuangan Ojong di bidang ini bukan hanya melalui
retorika, tetapi juga melalui tulisan-tulisan yang mengedukasi masyarakat
mengenai hak dan kewajiban kewarganegaraan, terutama terkait status dwi
kewarganegaraan yang saat itu menjadi masalah krusial bagi warga Tionghoa.9
Kelahiran Intisari dan Harian Kompas
Visi Petrus Kanisius Ojong untuk mencerdaskan bangsa
menemukan muaranya ketika ia menjalin kolaborasi dengan Jakob Oetama. Kedua
tokoh ini pertama kali bertemu pada tahun 1958, ketika Jakob masih bekerja di
majalah Penabur dan Ojong memimpin Star Weekly.20 Kesamaan latar belakang sebagai mantan guru membuat
keduanya cepat akrab dan berbagi visi yang sama tentang pentingnya media yang
independen dan mendidik.20
Pada 17 Agustus 1963, mereka meluncurkan majalah bulanan Intisari.2 Terinspirasi oleh Reader's Digest, Intisari
menyajikan artikel-artikel ilmu pengetahuan, sejarah, dan humaniora dalam
bahasa yang populer. Edisi perdana yang dicetak sebanyak 10.000 eksemplar laku
keras, membuktikan bahwa masyarakat haus akan informasi berkualitas.10 Keberhasilan Intisari memberikan fondasi
finansial bagi proyek yang lebih besar: sebuah harian umum nasional.
Harian Kompas lahir pada 28 Juni 1965 di tengah
situasi politik Indonesia yang sangat bergejolak.2 Pendirian koran ini sebenarnya mendapat dorongan dari
Jenderal Ahmad Yani, yang menginginkan adanya media yang mampu mengimbangi
pengaruh ideologi kiri (PKI) yang sangat dominan pada masa itu.9 Nama "Kompas" sendiri diberikan oleh Presiden
Soekarno sebagai simbol alat penunjuk arah bagi bangsa.9 Dalam operasionalnya, Ojong dan Jakob menerapkan
pembagian kerja yang saling melengkapi: Jakob mengurusi aspek redaksional,
sementara Ojong memegang kendali atas manajemen bisnis dan keuangan perusahaan.20
|
Media |
Tanggal Berdiri |
Visi Utama |
|
Intisari |
17 Agustus 1963 |
Memperluas cakrawala
pengetahuan masyarakat |
|
Harian Kompas |
28 Juni 1965 |
Menjadi amanat hati nurani
rakyat dan penunjuk arah bangsa |
|
PT Gramedia |
1970 |
Penerbitan buku dan
pencerdasan kehidupan bangsa |
Kepemimpinan dan Etika Bisnis Humanis
P.K. Ojong dikenal sebagai pemimpin yang menerapkan
standar moral dan profesionalisme yang sangat tinggi. Di Kelompok Kompas
Gramedia, ia menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat
pantang menyerah.12 Ia meyakini bahwa
integritas perusahaan bergantung pada integritas individu-individu di dalamnya.
Salah satu kebijakan manajemennya yang paling terkenal adalah kepeduliannya
yang tinggi terhadap kesejahteraan karyawan, yang ia anggap sebagai aset utama perusahaan.9
Ojong mempelopori pembentukan dana pensiun dan tunjangan
kesehatan bagi karyawan, sebuah praktik yang belum lazim dilakukan oleh
perusahaan swasta di Indonesia pada masanya.9
Namun, di balik sikap welas asihnya, ia juga dikenal sangat tegas dan
"saklek" dalam menegakkan aturan. Ia tidak menyukai hal-hal yang
bersifat pemborosan dan hura-hura.2
Prinsip penghematan yang diajarkan ayahnya diterapkan secara konsisten dalam
bisnis; ia lebih memilih mengalokasikan dana untuk pengembangan perusahaan dan
bantuan sosial daripada untuk seremoni yang tidak perlu.3
Gaya kepemimpinannya yang sederhana tercermin dari
penampilannya sehari-hari. Meski menjabat sebagai Direktur Utama, ia tetap
menggunakan mobil lama dan ruang kerja yang tidak mewah.3 Bagi Ojong, kemewahan pribadi adalah hal yang tabu jika
perusahaan belum mampu menyejahterakan seluruh karyawannya secara merata.
Prinsip ini menjadi fondasi bagi kultur perusahaan Gramedia yang mengedepankan
nilai-nilai kemanusiaan transendental.11
Kontribusi Intelektual melalui Karya Tulis
Selain sebagai pengusaha media, P.K. Ojong adalah seorang
penulis sejarah yang sangat produktif. Kecintaannya pada buku tercermin dari
koleksi perpustakaan pribadinya yang mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai
dari sejarah, hukum, hingga sains.10
Salah satu karya monumentalnya adalah seri buku Perang Eropa dan Perang
Pasifik, yang merupakan kompilasi dari tulisan-tulisannya di Star Weekly.22
Dalam buku Perang Eropa yang terdiri dari tiga
jilid, Ojong menyajikan detail strategi militer, drama kemanusiaan, dan
analisis geopolitik Perang Dunia II dengan ketajaman seorang jurnalis sekaligus
akurasi seorang sejarawan.24
Tulisan-tulisannya dalam rubrik "Kompasiana" di harian Kompas
antara tahun 1966 hingga 1971 juga menunjukkan luasnya wawasan intelektualnya,
mencakup kritik sosial, ekonomi, hingga isu-isu lingkungan hidup.22 Melalui tulisannya, Ojong berupaya mendidik pembaca
untuk berpikir kritis dan memiliki kesadaran sejarah yang kuat.
Karya Publikasi Penting P.K.
Ojong
|
Judul Buku |
Tahun/Edisi |
Subjek Utama |
|
Perang Eropa Jilid I, II,
III |
1963 (Awal), 2003-2005
(Reissue) |
Sejarah PD II di Teater
Eropa |
|
Perang Pasifik |
1956 (Awal), 2001
(Reissue) |
Sejarah PD II di Asia
Pasifik |
|
Perkara-perkara Kriminil
jang Termashur |
1962 |
Analisis kasus hukum dan
kriminal |
|
Kompasiana: Esai
Jurnalistik |
1981 (Post-mortem) |
Kumpulan pemikiran
sosial-politik |
Pengabdian Sosial dan Kepedulian Lingkungan
Jangkauan pengabdian Petrus Kanisius Ojong meluas
melampaui dunia pers. Ia aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan
kebudayaan. Sebagai anggota perhimpunan sosial Sin Ming Hui (Candra
Naya), ia berperan dalam berdirinya RS Sumber Waras dan Universitas
Tarumanegara, di mana ia juga sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina
Yayasan Tarumanegara.10 Ia percaya
bahwa pendidikan dan kesehatan adalah pilar utama kemajuan sebuah bangsa.
Di bidang seni dan budaya, Ojong menjabat sebagai
bendahara Lingkaran Seni Jakarta dan turut mendirikan Yayasan Indonesia yang
menerbitkan majalah kebudayaan Horison.2 Ia juga memiliki kepedulian yang sangat awal terhadap
isu lingkungan hidup. Sejak tahun 1952, Ojong telah menyuarakan pentingnya
penghijauan kota Jakarta dan aktif berdiskusi dengan para pengambil kebijakan
mengenai pelestarian ruang hijau.3
Melalui harian Kompas, ia secara konsisten memberikan ruang bagi isu-isu
ekologis, jauh sebelum masalah lingkungan menjadi tren global.
Dedikasinya pada keadilan sosial juga terlihat dari
perannya sebagai anggota Dewan Kurator Lembaga Bantuan Hukum (LBH), di mana ia
mendukung penyediaan pembelaan hukum bagi warga miskin yang tertindas.2 Semua kegiatan ini dilakukan dengan semangat pelayanan
yang tulus, mencerminkan identitasnya sebagai seorang Kristiani yang berupaya
menjadi "garam dan terang" di tengah masyarakat.
Masa-masa Sulit dan Pembredelan 1978
Salah satu ujian terberat dalam hidup P.K. Ojong adalah
peristiwa pembredelan harian Kompas pada Januari 1978 oleh pemerintah
Orde Baru.20 Pembredelan ini
terjadi setelah Kompas memberitakan gerakan mahasiswa yang menentang
pencalonan kembali Presiden Soeharto. Bagi Ojong yang sangat menjunjung tinggi
kebebasan pers dan integritas nurani, tindakan pemerintah ini merupakan pukulan
batin yang sangat berat.
Dalam menghadapi krisis tersebut, terjadi dinamika yang
menarik antara Ojong dan Jakob Oetama. Ojong yang berkarakter keras sempat ragu
untuk menyetujui syarat-syarat yang diajukan pemerintah agar Kompas
dapat terbit kembali. Namun, Jakob Oetama mengambil langkah pragmatis demi
menyelamatkan nasib lebih dari 2.000 karyawan dan kelangsungan institusi yang
telah mereka bangun dengan susah payah.20
Ojong akhirnya menghormati keputusan Jakob tersebut, meskipun hatinya terluka
karena harus berkompromi dengan penguasa. Peristiwa ini menunjukkan betapa
besar rasa tanggung jawab Ojong terhadap kesejahteraan para pekerjanya,
melampaui ego pribadinya.
Akhir Hayat dan Warisan yang Abadi
Petrus Kanisius Ojong wafat secara mendadak pada 31 Mei
1980 di Jakarta, dalam usia 59 tahun.1 Ia
ditemukan meninggal dunia di samping tempat tidurnya dalam posisi seolah-olah
sedang beristirahat, dengan sebuah buku yang masih terbuka di sampingnya.3 Kepergiannya yang begitu tenang merupakan akhir dari
sebuah hidup yang penuh perjuangan dan dedikasi. Jakob Oetama dalam kata
pelepasannya menyatakan betapa besarnya kehilangan yang dirasakan oleh dunia
pers Indonesia atas wafatnya "sang arsitek" manajemen Kompas Gramedia
tersebut.20
Pemerintah Indonesia menghargai jasa-jasanya yang luar
biasa dengan menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama secara anumerta.14 Selain itu, berbagai penghargaan lain seperti Number One
Press Card dari PWI dan Lifetime Achievement Awards dari berbagai lembaga
menjadi bukti pengakuan atas kontribusinya.14
Untuk mengenang jasanya, patung dirinya didirikan di halaman Bentara Budaya
Jakarta, sebuah lembaga yang ia rintis untuk melestarikan seni budaya
Indonesia.2
Penghargaan dan Penghormatan
Anumerta
|
Penghargaan |
Tahun |
Lembaga Pemberi |
|
Bintang Mahaputera Utama |
1973 |
Pemerintah Republik
Indonesia |
|
Patung P.K. Ojong |
1987 (Diresmikan) |
Bentara Budaya Jakarta |
|
55th Untar Awards |
2014 |
Universitas Tarumanegara |
|
Number One Press Card |
2010 |
Persatuan Wartawan
Indonesia (PWI) |
Refleksi: Hidup Sederhana Berpikir Mulia
Biografi P.K. Ojong bukan sekadar catatan tentang
kesuksesan bisnis, melainkan sebuah tuntunan moral bagi generasi mendatang.
Sebagaimana ditulis oleh Helen Ishwara dalam bukunya yang berjudul P.K.
Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia, esensi dari kehidupan Ojong adalah
kesetiaan pada prinsip di tengah godaan kekuasaan dan kekayaan.2 Ia membuktikan bahwa seorang Katolik dapat menjadi
pengusaha besar tanpa kehilangan nuraninya, dan menjadi warga keturunan tanpa
kehilangan nasionalismenya.
Warisannya tetap hidup melalui Kelompok Kompas Gramedia
yang terus berkembang dengan memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan
kemanusiaan yang ia tanamkan. Bagi pembaca di website tokoh-tokoh Katolik
Indonesia, sosok Petrus Kanisius Ojong adalah teladan tentang bagaimana iman,
intelektualitas, dan kerja keras dapat bersatu untuk menciptakan perubahan
positif yang abadi bagi nusa dan bangsa.11
Karya yang dikutip
1.
Tokoh Pers
Nasional dan Pendiri Kompas Gramedia Petrus ..., diakses Maret 10, 2026, https://kompaspedia.kompas.id/baca/profil/tokoh/tokoh-pers-nasional-dan-pendiri-kompas-gramedia-petrus-kanisius-ojong
2.
Petrus Kanisius
Ojong - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diakses Maret 10, 2026,
https://id.wikipedia.org/wiki/Petrus_Kanisius_Ojong
3.
Mengenang P.K.
Ojong, Tokoh Pers Nasional Sekaligus Pendiri Kompas Gramedia - Olenka, diakses
Maret 10, 2026, https://olenka.id/mengenang-pk-ojong-tokoh-pers-nasional-sekaligus-pendiri-kompas-gramedia/all
4.
Petrus Kanisius
Ojong - Wikipedia, diakses Maret 10, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Petrus_Kanisius_Ojong
5.
P. K. OJONG:
IDEALISME SEORANG WARTAWAN TIONGHOA ..., diakses Maret 10, 2026, http://repository.unj.ac.id/55628/
6.
P.K. Ojong -- A
simple life full of achievement - jawawa - Okusi Associates, diakses Maret 10,
2026, https://jawawa.id/newsitem/pk-ojong-a-simple-life-full-of-achievement-1447893297
7.
Jejak PK Ojong
Muda di Jakarta, diakses Maret 10, 2026, https://interaktif.kompas.id/baca/jejak-pk-ojong/
8.
Petrus Kanisius
Ojong - Wikipedia baso Minang, diakses Maret 10, 2026, https://min.wikipedia.org/wiki/Petrus_Kanisius_Ojong
9.
Belajar dari P.
K. Ojong - Indonesiana.id, diakses Maret 10, 2026, https://www.indonesiana.id/read/127074/belajar-dari-p-k-ojong
10.
Biografi PK Ojong
- Pendiri Surat Kabar Kompas, diakses Maret 10, 2026, https://www.biografiku.com/biografi-pk-ojong-pendiri-surat-kabar/
11.
Kompas Gramedia
Recalls the Legacy of Wisdom of Jakob Oetama and P.K. Ojong, diakses Maret 10,
2026, https://www.umn.ac.id/en/kompas-gramedia-kenang-kembali-warisan-kearifan-jakob-oetama-dan-p-k-ojong-2/
12.
PK Ojong Wariskan
Nilai-nilai Kejujuran, Kedisiplinan, dan Semangat Pantang Menyerah, diakses
Maret 10, 2026, https://robertadhiksp.net/2015/06/11/pk-ojong-wariskan-nilai-nilai-kejujuran-kedisiplinan-dan-semangat-pantang-menyerah/
13.
Petrus Kanisius
Ojong dan Sejarah Pers Indonesia (Studi Communication History berbasis
Performance Research Tokoh Petrus Kanisius Ojong) - Brawijaya Knowledge Garden,
diakses Maret 10, 2026, https://repository.ub.ac.id/8691/
14.
Pendiri Kompas –
Korporat, diakses Maret 10, 2026, https://korporasi.kompas.id/tentang-kompas/pendiri-kompas/
15.
peran h. junus
jahja dalam proses asimilasi antara etnis tionghoa dan pribumi di - Digilib UIN
Sunan Ampel Surabaya, diakses Maret 10, 2026, http://digilib.uinsa.ac.id/23450/1/Ria%20Andriani_A72214074.pdf
16.
Siauw Giok Tjhan,
Upaya Progresif Melawan Rasisme | We're All Stories, In the End, diakses Maret
10, 2026, https://sylvietanaga.wordpress.com/2020/09/28/siauw-giok-tjhan-upaya-progresif-melawan-rasisme/
17.
Jalan Panjang
Asimilasi Etnis Tionghoa (Iskandar Jusuf) - FlipHTML5, diakses Maret 10, 2026, https://fliphtml5.com/qinnk/fran/Jalan_Panjang_Asimilasi_Etnis_Tionghoa_%28Iskandar_Jusuf%29/
18.
Jurnal Sejarah
Jejak Nusantara Jalur Rempah Sebagai Simpul Peradaban Bahari - Scribd, diakses
Maret 10, 2026, https://id.scribd.com/document/683663588/Jurnal-Sejarah-Jejak-Nusantara-Jalur-Rempah-Sebagai-Simpul-Peradaban-Bahari
19.
Sumbangsih Siauw
Giok Tjhan & Baperki, diakses Maret 10, 2026, https://rowlandpasaribu.files.wordpress.com/2013/09/s-tiong-djin-oey-hay-djoen-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-baperki.pdf
20.
Jurnalisme
Kepiting Jakob Oetama - Historia.ID, diakses Maret 10, 2026, https://www.historia.id/article/jurnalisme-kepiting-jakob-oetama-dwjao
21.
Jakob Oetama,
Mata Kompas Jurnalisme Indonesia, diakses Maret 10, 2026, https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/09/13/jakob-oetama-mata-kompas-jurnalisme-indonesia
22.
Buku-buku PK
Ojong (Koleksi Perpustakaan Pribadiku) - Robert Adhi Ksp, diakses Maret 10,
2026, https://robertadhiksp.net/2021/05/30/buku-buku-pk-ojong-koleksi-perpustakaan-pribadiku/
23.
Perang Eropa
Series by P.K. Ojong - Goodreads, diakses Maret 10, 2026, https://www.goodreads.com/series/272124-perang-eropa
24.
Perang Eropa :
Jilid I / P.K. Ojong | Perpustakaan Mahkamah Konstitusi, diakses Maret 10,
2026, https://simpus.mkri.id/opac/detail-opac?id=7113
25.
Perang Eropa /
P.K. Ojong | Perpustakaan Mahkamah Konstitusi, diakses Maret 10, 2026, https://simpus.mkri.id/opac/detail-opac?id=7235
26.
Perang Eropa :
Jilid II / P.K. Ojong | Perpustakaan Mahkamah Konstitusi, diakses Maret 10,
2026, https://simpus.mkri.id/opac/detail-opac?id=7112
27.
Mengenang Seabad
P.K. Ojong dan Sumbangsihnya untuk Indonesia - Gramedia, diakses Maret 10,
2026, https://www.gramedia.com/best-seller/mengenal-seabad-pk-ojong-dan-sumbangsingnya-untuk-indonesia/

