TSO5GUG6BSClTSd9TfY9BUdiGd==
Breaking
AdExtraID

Tjilik Riwut: Tokoh Katolik Dayak dan Pahlawan Nasional Kalimantan Tengah

Ukuran huruf
Print 0

 


Riwayat Hidup dan Latar Belakang Keluarga

Tjilik Riwut lahir pada 2 Februari 1918 di Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Ia adalah putra asli suku Dayak Ngaju (sub-suku Otdanum). Menurut riwayat keluarga, kelahirannya begitu dinanti karena ayahnya, Riwut Dahiang, sampai melakukan nazar (bersemedi) memohon kepada Ranying Hatalla agar dikaruniai anak laki-laki. Dua tahun setelah itu, lahirlah Tjilik sebagai satu-satunya putra dari lima bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di desa-desa Kalimantan, mengenal hutan rimba sebagai teman bermain sekaligus ruang pengalaman spiritual.

Sejak kecil Tjilik dikenal cerdas dan ulet. Ia menyelesaikan sekolah dasar di Kasongan pada 1931 dan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan (Taman Dewasa) dua tahun kemudian. Berkat dukungan misi pendidikan (Zending), ia kemudian mengikuti kursus perawat di RS Bayu Asih, Purwakarta, Jawa Barat, serta pendidikan keperawatan di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Kendati studi keperawatannya tidak rampung tuntas, pengalaman ini membekali Tjilik dengan wawasan luas dan kemampuan komunikasi yang kelak bermanfaat dalam karier jurnalistik dan politiknya.


Kiprah dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Pembangunan Kalimantan

Semangat kebangsaan Tjilik Riwut telah terbentuk sejak masa pendudukan Jepang. Menjelang proklamasi kemerdekaan, ia aktif menggalang kesadaran politik di kalangan Dayak. Setelah RI diproklamasikan, ia memimpin pertemuan akbar 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan, yang secara adat bersumpah setia kepada Negara Republik Indonesia di Gedung Agung, Yogyakarta, pada 17 Desember 1946. Setahun kemudian, sebagai Mayor TNI (Angkatan Udara), Tjilik memimpin operasi penerjunan pasukan payung pertama Angkatan Bersenjata RI di desa Sambi (Pangkalan Bun) pada 17 Oktober 1947. Aksi ini menjadi tonggak sejarah (diperingati sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU) dan menunjukkan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan.

Setelah era revolusi fisik, Tjilik Riwut terjun ke dunia pemerintahan. Ia diangkat menjadi Bupati Kotawaringin Timur (1950–1956) dan kemudian Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah (1959–1967). Selama menjabat, ia bersama masyarakat membangun desa Pahandut yang berkembang menjadi Kota Palangka Raya sebagai ibukota provinsi baru. Di bawah kepemimpinannya didirikan sekolah, jembatan, perkantoran, dan bandara yang menjadi penyokong kemajuan Kalimantan Tengah. Sebagai pengakuan jasa-jasanya, Tjilik dianugerahi pangkat kehormatan Marsekal Pertama (Tituler) TNI-AU dan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI (SK No. 107/TK/1998, 6 Nov 1998). Nama Tjilik Riwut kini diabadikan sebagai nama Bandara Palangka Raya serta jalan lintas Trans-Kalimantan sepanjang 200 km, simbol pengakuan atas peran pentingnya dalam integrasi Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia.


Perjalanan Iman Katolik

Meski tumbuh dalam tradisi Kaharingan (agama asli Dayak), perjalanannya menuju Katolik berlangsung setelah masa revolusi. Saat dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta, Tjilik jatuh cinta kepada seorang suster perawat setempat dan menikahinya. Setelah pernikahan itu, ia menerima Sakramen Baptis Katolik dari Romo Adrianus Djajaseputra SJ (kemudian Uskup Agung Jakarta). Dari pernikahan tersebut lahir lima orang anak. Keputusan ini mengokohkan komitmennya terhadap iman Katolik; ia aktif dalam komunitas Gereja Katolik di Kalimantan Tengah.

Wartawan dan budayawan Dayak memandang Tjilik Riwut sebagai teladan keberagamaan yang juga menghormati tradisi leluhur. Sekalipun Katolik, menurut laporan media Antara, ia “tak pernah lepas dari kepercayaan Kaharingan” dan tetap menjaga harmoni antara nilai Katolik dengan kearifan lokal Dayak. Majalah HIDUP Katolik bahkan menyanjungnya sebagai pahlawan Katolik dari Kalimantan Tengah, mengenang tempat pertapaannya sebagai situs ziarah masyarakat Katolik. Integrasi dua identitas ini tercermin dalam sikap hidupnya: sederhana, adil, dan menghargai persatuan, sebagaimana diajarkan imannya.


Warisan dan Kontribusi Budaya

Tjilik Riwut adalah pelopor pengenalan budaya Dayak ke tingkat nasional. Ia menulis beberapa buku penting tentang Kalimantan dan Dayak, antara lain Makanan Dayak (1948) dan Maneser Panatau Tatu Hiang (1965, karya dalam bahasa Dayak Ngaju), yang merekam kearifan lokal. Media nasional menyoroti jati dirinya sebagai “penjaga kearifan lokal” Kalimantan Tengah. Prinsip hidup yang dianutnya, “Isen Mulang” (pantang mundur), dihayati sebagai semangat gotong-royong dan kesetaraan ala budaya Huma Betang Dayak. Dewan Adat Dayak menyebut nilai luhur yang tercermin dalam diri Tjilik antara lain kejujuran, kebersamaan, dan saling hormat. Bahkan kawan seperjuangannya menyebut Tjilik Riwut sebagai “Dayak 24 karat” karena kejujuran dan kesetiaannya yang tinggi.

Hingga kini, warisan Tjilik Riwut tetap hidup di Kalimantan Tengah. Kota Bukit Batu (Kasongan Lama) menjadi kawasan wisata napak tilas pertapaannya, sementara monumen dan nama jalan menghiasi Palangka Raya. Bandara utama provinsi itu pun bernama Bandara Tjilik Riwut. Semua ini menandakan betapa besar kontribusinya bagi budaya Dayak dan integrasi Kalimantan ke Indonesia. Semangat perjuangan, kebersamaan, dan keimanannya terus diingat sebagai inspirasi bagi generasi kini.*

Disarikan dari berbagai sumber



Tjilik Riwut: Tokoh Katolik Dayak dan Pahlawan Nasional Kalimantan Tengah
Baca Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin